
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah sentra produksi dan pemasaran, antara lain di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan DKI Jakarta dari bulan Januari 2002 sampai dengan Desember 2002 menggunakan metode survei. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan informasi masalah pelaku bisnis lili. Data diperoleh dari data primer yang diperoleh dari wawancara langsung dengan pelaku bisnis (petani, pengusaha dan pedagang) menggunakan kuesioner dan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Pertanian, Asbindo dan literatur dari hasil penelitian tanaman hias yang berkaitan dengan penelitian ini. Jumlah pelaku bisnis yang dijadikan sampel 16 orang petani dan 35 pedagang. Data dianalisis dengan analisis deskriptif yang diformulasikan ke bentuk tabel untuk mengidentifikasi pelaku bisnis lili dilakukan analisis isi. Kesimpulan penelitian ini adalah Penyakit busuk akar dan umbi yang disebabkan oleh fusarium belum bisa dicegah atau dikendalikan oleh pelaku bisnis tingkat petani. Masalah tingkat pedagang adalah kwualitas bunga lili masih kurang memenuhi standar dan lebih rendah dari kwalitas impor, terjadinya penurunan kwalitas dan penyusutan produk akibat faktor pengepakan dan trasportasi.
Kata kunci : Lilum longiflorum, Identifikasi masalah, Pelaku bisnis.
ABSRAK Komar, D., Nurmalinda, A. Warsito, and W. Adiyoga. Identification of Lili Businessman. This research was done in production centre and marketing region as follow West Java, Central Java, East Java, and DKI Jakarta from January to December 2002, using survey method. Primer data was taken by direct interview with businessman (farmer, employer, merchant) using quesioner. Secondary data was taken from institution and references related to this research. Sum business doer sampled were 16 farmer and 35 businessman. Data analizing using descriptive analizing formulated into table form and data tabulation to identify lily businessman. Conclusion of this research indiration that the root and bulb soft rot caused by fusarium yet been inhibited or controlled by farmers. For trader, the problem was done to imferior quality does not need the standard quality) and lower quality then the imported product and the quality dropped and of losses due to paching and trasportation factors.
Keywords : Lilium longiflorum, Problems Identification, Business doer
Sebelum mengalami krisis ekonomi, pemerintah menempatkan sektor industri pada urutan pertama dalam menunjang tingkat perekonomian negara, tetapi setelah mengalami krisis ekonomi pemerintah menempatkan sektor pertanian pada urutan pertama dalam menunjang tingkat perekonomian negara.
Salah satu penunjang perekonomian dari sektor pertanian adalah mengembangkan usahatani hortikultura, di antaranya mengembangkan usahatani tanaman hias, karena usahatani tanaman hias mempunyai peluang bisnis yang cukup baik di pasaran global. Dalam mengisi pasaran dunia, Indonesia mulai tercatat tahun 1994, sebagai pemasok tanaman hias menempati urutan ke 63 dari 67 negara dengan nilai $ 888.000. Selanjutnya tahun 1995 menempati urutan ke 56 dengan nilai $ 1.200.000 yang terdiri dari bunga potong, daun potong dan tanaman hias (IPC Trade Statistic 1996 dalam Asbindo 1998).
Lili merupakan salah satu jenis tanaman hias yang banyak digemari karena mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya adalah bentuk bunga majemuk, warna bunga bervariasi, aroma wangi dan harga bunga cukup tinggi. Masyarakat menggunakan bunga potong lili untuk keperluan pesta perkawinan, ulang tahun, upacara adat, ritual keagamaan dan peringatan hari besar nasional. Produsen lili belum biasa memenuhi kebutuhan pasar domestik karena rata-rata kebutuhan lili lebih dari 15 juta rata-rata pertahun. Untuk memenuhi kekurangannya terpaksa harus dipasok dari luar negeri.
Di negara yang sudah maju seperti Amerika Serikat, Jepang dan negara-negara yang tergolong dalam masyarakat Uni Eropa, sampai dengan tahun 2003, permintaan lili diperkirakan mengalami peningkatan sekitar 26,15% per tahun (Floriculture 1994). Di negara berkembang lainnya seperti di Belanda, penanaman lil dari tahun ke tahun terus meningkat untuk memenuhi kebutuhan pasar. Mulai tahun 1970 luas lahan untuk bunga lily meningkat dari 227 ha menjadi 2896 ha pada tahun 1993 (Van Tuyl 1997).
Dalam upaya pengembangan agribisnis lili di dalam negeri masih dijumpai beberapa kendala yang dialami oleh pelaku bisnis. Kendala tersebut antara lain masih belum menguasai teknologi, pengendalian hama penyakit, pemasaran, modal masih rendah juga, pengadaan bibit bermutu masih tergantung pada bibit luar negeri yang umumnya dengan harga yang mahal. Hal tersebut berdampak pada penjualan bunga ke konsumen menjadi semakin tinggi.
Untuk memenuhi kebutuhan bunga yang semakin meningkat perlu adanya keseimbangan dan produktivitas usahatani yang ditentukan oleh ketersediaan input produksi, daya dukung lahan, pemilikan komoditas, perilaku petani, ketersediaannya teknologi, sarana dan prasarana untuk pemasaran hasil serta perilaku konsumen (Kusumah Effendie 1994). Untuk memenuhi permintaan pasar domesti maupun luar negri harus bisa memilih jenis usahatani yang memenihi standar berkualitas dan bernilai ekonomis tinggi. Dalam era pasar global, sistem usahatani yang berpola agribisnis menjadi tuntutan para produsen agar dapat mengatasi persaingan bebas dan berhasi merekrut pasar (Marwoto at.al. 1997).
Upaya menggairahkan agribisnis lili di tingkat produsen dan pedagang perlu diketahui masalah yang dihadapi oleh tiap pelaku bisnis, dengan mengetahui masalah atau kendala dalam agribisnis lili, pelaku bisnis bisa memecahkan masalah yang dihadapi untuk memperbaiki usahataninya supaya lebih menguntungkan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi masalah yang dihadapi oleh pelaku bisnis lili di tingkat produsen dan konsumen.
BAHAN DAN METODE
Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari 2002 sampai dengan bulan Desember 2002 di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan DKI Jakarta. Penentuan lokasi penelitian secara sengaja berdasarkan pertimbangan : a) daerah tersebut merupakan sentra produksi lili dan pemasaran. Di Jawa Barat meliputi daerah Lembang dan Sukabumi untuk pemasarannya di Wastukencana Bandung. Di Jawa Tengah meliputi daerah Bandungan dan Ambarawa, daerah tersebut hanya lokasi pemasaran saja, untuk memenuhi permintaan konsumen membeli dari produsen Jawa Barat dan Jawa Timur. Di Jawa Timur daerah Produksi di Batu, Malang dan lokasi pemasarannya di Malang dan Surabaya. DKI Jakarta merupakan sentra pemasaran seperti yang dijadikan sampel Pasar Rawa Belong, Cikini dan Barito. Pelaksanaan penelitian menggunakan metode survei formal ( Santen & Hariyono 1986 ). Dalam pelaksanaan penelitian ini dibagi dalam dua tahap, yaitu survei pendahuluan dan survei utama (Singaribuan & Effendie 1985). Survei pendahuluan diperlukan untuk inpormasi awal, tes kuesioner, pengambilan data sekunder dari Dinas Pertanian, Balai Penelitian Tanaman Hias, literatur dan informasi pasar dari Dinas Pertanian dan Kehutanan DKI Jakarta yang dijadikan dasar dalam penelitian ini.
Pada survei utama, dilaksanakan untuk mengambil data frimer secara langsung dari 16 orang petani dan 35 pedagang sebagai sampel, yang telah dipilih secara acak sederhana. Pengambilan data ini dilakukan dengan teknik wawancara dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang telah disusun dalam kuesioner, yang mencakup (a) karakteristik responden, (b) aspek budidaya, (c) masalah yang dihadapi oleh petani dalam system produksinya. Data frimer yang diambil dari pedagang mencakup (a) klasifikasi pedagang, (b) masalah yang dihadapi oleh pedagang.
Data yang sudah terkumpul di analisis secara deskriptif, ditabulasi yang diformulasikan ke dalam bentuk tabel, untuk mengidentifikasi masalah yang dialami oleh pelaku bisnis lili menggunakan analisis isi ( Adiyoga et al. 1996 ).
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Karakteristik Responden
Petani responden yang mempunyai umur kisaran antara umur 31-40 tahun (Tabel 1) mendominasi umur petani responden (50 %). Struktur usia ini mempunyai potensi respon yang tinggi terhadap inovasi atau teknologi baru, usia muda yang sangat berpotensi menjalankan usahatani di bawah umur 31 tahun sudah mulai meninggalkan usahatani lili beralih pada usahatani lain dan kebanyakan beralih pada sektor nonpertanian, seperti industri. Kenyataan ini sangat relevan dengan hasil penelitian Sutiarso (1994) di daerah bekasi tahun 1992, yang menunjukan para pemuda sudah mulai meninggalkan sektor pertanian bergeser ke sektor nonpertanian seperti industri yang tumbuh pesat pada akhir-akhir ini.
Tabel .1. Karakteristik Responden Pelaku Bisnis Lily 2003 (The Characteristics of The Lily Businessman Respondets 2003)
|
No |
Uraian (Description) |
Jumlah (n 16) (Sum) |
(%) (Percentage) |
|
1. |
Usia Responden (Respondents age) |
|
|
|
|
20 – 30 th |
2 |
12,50 |
|
|
31 – 40 th |
8 |
50,00 |
|
|
41 – 50 th |
4 |
25,00 |
|
|
> 51 th |
2 |
12,50 |
|
2. |
Tingkat Pendidikan (Education) |
|
|
|
|
SD |
5 |
31,25 |
|
|
SLTP |
2 |
12,50 |
|
|
SLTA |
7 |
43,75 |
|
|
Sarjana |
2 |
12,50 |
|
3. |
Pengalaman Usahatani Tanaman Hias (Farming Expirience) |
|
|
|
|
1 – 10 th |
2 |
12,50 |
|
|
11 – 20 th |
5 |
31,25 |
|
|
21 – 30 th |
5 |
31,25 |
|
|
31 – 40 th |
3 |
12,56 |
|
|
> 40 th |
1 |
6,25 |
|
4. |
Pengalaman Usahatani Lily (Lily planting expiriences) |
|
|
|
|
1 – 5 th |
6 |
37,50 |
|
|
6 – 10 th |
8 |
50,00 |
|
|
> 11 th |
2 |
12,50 |
|
5. |
Luas Garapan Lahan Lily (Size of lily planting) |
|
|
|
|
50 – 100 m2 |
6 |
37,50 |
|
|
101 – 200 m2 |
4 |
25,60 |
|
|
201 – 300 m2 |
3 |
18,75 |
|
|
301 – 400 m2 |
2 |
12,50 |
|
|
> 400 m2 |
1 |
6,25 |
Sumber data : Data primer yang diolah.
Bila dilihat dari segi pengalaman usahatani tanaman hias, ternyata sudah cukup lama, yaitu 11-30 tahun menunjukan pesentase yang besar (62,50 %) dan dilihat dari segi pengalaman usahatani lili antara 6-10 tahun menunjukan persentase yang cukup besar. Begitu pula dilihat dari latar belakang pendidikan formal, sebagian besar responden (43,74 %) berpendidikan sekolah lanjutan atas. Gambaran tingkat pendidikan formal merupakan indikator dalam usaha pengembangan teknologi baru. Suatu generalisasi yang diungkapkan oleh Rogers (1962) dalam Adiyoga et al. (1996) menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin cepat pula menerima inovasi ( teknologi baru ). Di samping itu, interaksi antara pengalaman dengan tingkat pendidikan formal dapat dipediksi kemampuan mengelola usahataninya (Adiyoga 1994).
Luas lahan yang diusahakan petani lili berkisar antara 50-400 m2, akan tetapi luas lahan rata-rata yang diusahakan petani berkisar antara 50-100 m2, keadaan tersebut disebabkan oleh kendala yang belum bias ditangani oleh petani terutama penyakit busuk akar dan umbi.
Dilihat dari kendala yang dihadapi oleh petani lili seperti luas lahan garapan sempit, keterbatasan modal, risiko usaha cukup tinggi dan serangan penyakit busuk akar dan umbi belum bisa ditangani yang menyebabkan produksi umbi dan bunga berkurang, maka perlu ada pertimbangan penyempurnaan teknologi yang telah ada menjadi lebih sederhana, murah dan mudah diterapkan oleh petani.
2. Jenis Tanaman Hias yang Sedang Diusahakan
Beberapa jenis tanaman hias yang diusahakan pelaku bisnis pada (Tabel 2) merupakan tanaman hias yang diusahakan oleh responden pelaku bisnis lili selama 2 tahun terakhir di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur yaitu krisan, mawar, gladiol, gerbera, lili dan sedap malam. (Tabel 2) juga merupakan kisaran luas lahan yang digunakan masing-masing jenis tanaman hias
Tabel 2. Jenis bunga potong dan luas lahan garapan yang ditanam petani lily tahun 2003 (Kind of cutting flowers and the farm acearage which was planted by the lily farmer in 2003)
|
No |
Lokasi (Location) |
Jenis Tanaman (Kinds of ornomental) |
Luas Lahan (m2) (Farmer sizes) |
Jumlh Petani (Number of farmer) |
(%) (Percentage) |
Keterangan (Remark) |
|
1 |
Jawa Barat, Cisarua, Lembang |
Krisan Gladiol Mawar Anyelir Lily |
500 – 5000 500 – 3000 300 –3000 200 – 1000 50 – 400 |
3 3 2 2 7 |
43 43 28 28 100 |
Lili dan Tanaman hias lain (Planted lilium and other cut flower) |
|
2 |
Sukabumi |
Krisan Gerbera Gladiol Sedap malam Lily |
500 – 5000 500 – 3000 300 – 3000 200 – 1000 50 – 200 |
3 2 3 3 5 |
60 40 60 60 100 |
Lili dan Tanaman hias lain (Planted lilium and other cut flower) |
|
3 |
Jawa Tengah, Ambarawa |
Sedap malam Mawar Gladiol Krisan |
100 – 1000 50 – 300 100 – 500 500 – 2000 |
8 3 3 8 |
100 37,5 37,5 100 |
Tanpa tanam lili (non lilium planted ) |
|
4 |
Malang |
Krisan Mawar Gladiol Sedap malam Lily |
300 – 500 200 – 300 200 – 2500 100 – 200 50 – 200 |
4 2 2 3 4 |
100 50 50 75 100 |
Lili dan Tanaman hias lain (Planted lilium and other cut flower) |
Sumber data : Data primer yang diolah.
Di darah Jawa Tengah hanya memper oleh data bunga potong krisan, gladiol, mawar dan sedap malam sedangkan bunga potong lili dipasok dari Jawa Barat dan Jawa Timur karena petani belum bias menanam bunga potong lili di samping memperoleh bibit susah juga teknik usahataninnya belum menguasainya secara baik.
Berdasarkan pengalaman petani dan pengusaha tanaman hias selama dua tahun terakhir petani bunga potong memilih jenis tanaman yang sudah dikuasai teknik budidaya dan menguntungkan walaupun harga bunga potong itu tidak mahal, seperti halnya terlihat dalam Tabel 2. Petani Sukabumi mengusahakan bunga potong krisan, gerbera, gladiol dan sedap malam dengan luas lahan antara 200 m2 sampai 5000 m2 sedangkan bunga potong lili berkisar antara 50-200 m2 padahal selama krisis moneter, daerah Sukabumi merupakan sentra produksi gladiol juga sentra produksi lili putih lokal. Tetapi sekarang mengalami penurunan produksi dan luas lahan padahal harga bunga potong lili cukup tinggi. Menurut pengamatan dan pernyataan petani menurunnya luas lahan dan produksi lili disebabkan oleh penyakit busuk akar dan umbi yang belum bisa dikendalikan secara kimiawi, sehingga bibit yang dipanen semakin berkurang Karena itu petani mengkatagorikan bahwa tanaman lili merupakan jenis tanaman hias yang berisiko produksi tinggi terutama dikaitkan dengan risiko kehilangan hasil akibat serangan penyakit.
Budidaya Tanaman Lili
Pola Tanam
Lili merupakan tanaman tahunan, bisa berproduksi selama 3-4 tahun. Pada lokasi yang sama ada kecenderungan bagi pelaku bisnis lili untuk mencari lahan baru karena menurut petani makin sering menanam lili pada lahan bekas tanaman sejenis akan semakin menurun produksinya dan banyak serangan hama penyakit.
Ada beberapa tipe pola umum tumpang gilir yang dilakukan oleh pelaku bisnis di beberapa daerah :
1. Padi – lily – padi
2. Padi – lily – sayuran
3. Tanaman hias lain – lily – sayuran
4. Padi – lily – tanaman hias lain
Sebagian besar petani menanam lily bergiliran dengan padi karena tanah bekas tanaman padi dapat berproduksi tinggi dan dapat menekan serangan penyakit. Tetapi tanaman lily juga dapat ditanam pada lahan bekas tanaman sayuran atau bekas tanaman hias. Kenyataan ini relevan dengan hasil penelitian Ameriana et al. (1991) di daerah Cisarua, bawa tanaman gladiol dalam pola tanamnya bergiliran dengan sayuran karena daerah tersebut sentra pruduksi sayuran.
Bibit
Lili yang diusahakan terdiri dari bermacam-macam varietas. Tiap varietas mempunyai karakteristik tersendiri terutama dari warna bunga dan tipe bunga. Kebanyakan petani menanam lili varietas lokal, warna bunga putih dan tipe bunga terompet, sedangkan perusahaan menanam bermacam-macam varietas seperti Cassablanca, Asiatik, Snow Queen dan lain-lain yang mempunyai warna bunga dan tipe bunga yang bermacam-macam.
Petani memperoleh bibit melalui perbanyakan umbi, dalam satu rumpun bisa menghasilkan 2-3 umbi, tetapi selama 2 tahun ke belakang petani mengalami kesulitan dalam pembibitan. Hal ini disebabkan bibit yang berasal dari umbi jumlahnya semakin berkurang karena mengalami busuk akar dan umbi sehingga pengadaan bibit lili semakin lama semakin berkurang.
Persiapan lahan dan tanam
Bibit lili ditanam dalam bedengan selebar 80 cm dengan tinggi bedengan 25 cm dengan jarak tanam antarbedengan 40 cm jarak antarbibit bervariasi tergantung besar kecilnya bibit, yaitu mulai dari 15 x 20 cm sampai 20 x 40 cm. Pada lahan yang sudah dicangkul dan dihaluskan dibuat bedengan, selanjutnya dibuat lubang tanam sesuai dengan ukuran umbi dan ditanam.
Pemupukan
Pemupukan menggunakan pupuk dasar organik yang ada di daerah masing-masing, sedangkan pupuk anorganik sebagian besar menggunakan pupuk TSP, KCl, Urea dan NPK dengan dosis 10 gram per tanaman selang waktu 1 bulan sekali.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama yang menyerang tanaman lili dapat dikatakan tidak terlalu berat, umumnya pelaku bisnis tidak mendapat kesulitan dalam pengendaliannya. Hama yang sering menyerang adalah serangga dan ulat. Tetapi serangan penyakit pada tanaman lili baik di petani maupun di pengusaha dapat dikatakan cukup berat. Pelaku bisnis mengalami kesulitan untuk pengendalikannya karena berbagai pestisida tidak mampu untuk mencegahnya. Penyakit yang menyerang tanaman lili adalah busuk akar, busuk umbi dan akhirnya batang dan daun mati. Penyakit busuk akar dan umbi disebabkan karena infeksi Fusarium sp. Menurut Straathof (1994) infeksi Fusarium pada umbi menjadi kendala utama dalam perdagangan umbi lili.
Upaya pengendalian hama dan penyakit yang dilakukan oleh petani adalah menyemprot dengan pestisida dengan dosis menurut anjuran yang tertera dalam lebel kemasan dan frekuensi yang digunakan hanya 1 kali per minggu dan pengusaha melakukan penyemprotan 2 kali per minggu dengan dosis pestisida yang digunakan sesuai dengan anjuran.
Jenis pestisida yang digunakan bervariasi sesuai dengan kebiasaan masing-masing pelaku bisnis lili antara lain Decis, Antracol, Daconil, Methamidophos, Curacron, Benlate, Previcur, Buldok, dan Agrimex.
Umumnya petani dan pengusaha melakukan penyemprotan secara rutin sebab menurut mereka apabila penyemprotan terlambat akan mengakibatkan kerusakan pada tanaman terutama pada kualitas bunga karena bunga merupakan produk pokok yang dihasilkan.
Pemeliharaan Tanaman
Secara umum pemeliharaan tanaman lili sama dengan tanaman hias lainnya selain pengendalian hama penyakit dan pemupukan antara lain penyiangan, pengguludan dan penyemprotan. Penyiangan dilakukan 1 bulan sekali, tergantung dari keadaan gulma.
Pengguludan rata-rata dilakukan petani setelah tanaman berumur 1,5-2 bulan setelah pemupukan susulan dengan tujuan di samping menimbun umbi yang timbul di permukaan tanah juga menimbun pupuk susulan supaya tidak terbuang oleh air hujan dan penguapan oleh terik matahari.
Penyiraman hanya dilakukan apabila dianggap perlu tergantung pada keadaan cuaca. Pada musim hujan petani tidak melakukan penyiraman, tetapi pada musim kemarau penyiraman dilakukan umumnya 2 kali dalam seminggu. Pada tanaman lili di rumah plastik, penyiraman rata-rata dilakukan 3 kali dalam satu minggu.
Beberapa Masalah pada Usahatani Lili Tingkat Produsen
Pada usahatani lili produsen mengalami beberapa hambatan atau masalah yang mengakibatkan penurunan produksi dan kualitas bunga, yang pada akhirnya produsen mengalami kerugian. Hal itu terutama disebabkan oleh beberapa masalah, antara lain bibit, penyakit, informasi teknis, modal dan harga (Tabel 3).
Masalah utama yang dihadapi produsen adalah penyakit busuk akar dan umbi 43,75 (%) yang mengakibatkan penurunan produksi dan jumlah bibit yang dipanen. Busuk akar dan umbi diduga disebabkan oleh Fusarium oxyporum f sp. Lilli. (Intinle. 1942; Imle. 1942 b; Linderman, 1981) Penyakit Fusarium oxyporum f sp. Lilli. menyebabkan siung dan umbi lili menjadi busuk. Serangan Fusarium umumnya terjadi selama perbanyakan benih umbi dan pemeliharaan tanaman lili lokal sangat rentan terhadap busuk umbi (Marwoto, 1999).
Upaya penanggulangan penyakit busuk umbi yang dilakukan petani adalah dengan penyemprotan pestisida tetapi sampai saat ini masih belum berhasil. Upaya pencegahan busuk akar dan umbi yang disebabkan oleh Fusarium tergantung pada kombinasi teknik pengendalian (Lindermann 1977; Mc Rae 1987)
Tabel 3. Masalah yang dihadapi pelaku bisnis lily tahun 2002 (The problem at faced by lily businessman in 2002)
|
No |
Komponen masalah (Problem) |
Jumlah produsen (Number of grower) |
(%) (Percentage) |
|
1 |
Bibit (Seed) |
4 |
25,00 |
|
2 |
Penyakit (Deseases) |
7 |
43,75 |
|
3 |
Lahan (Land) |
1 |
6,25 |
|
4 |
Informasi teknis (Technical information) |
2 |
12,50 |
|
5 |
Modal (Capital) |
1 |
6,25 |
|
6 |
Harga (Price) |
1 |
6,25 |
Sumberdata : Data primer yang diolah.
Salah satu cara untuk menekan Fusarium adalah dengan rotasi tanaman, pemberian pupuk rendah nitrogen, sterilisasi tanah dan penggunaan material tanaman yang sehat. Pencegahan penyakit dilakukan dengan desinfeksi benih menggunakan bahan kimia, seperti benomyl, captan, prochloroz (Bollen, 1972).
Produsen susah memperoleh bibit lili yang bermutu karena adanya serangan penyakit busuk umbi bibit. Untuk mendapatkan bibit yang berkualitas baik terpaksa produsen harus membeli bibit dari luar negeri walaupun harga bibit dan biaya impor cukup mahal.
Untuk menanggulangan kesulitan mendapatkan bibit maka pemerintah harus dapat menyediakan benih lokal yang tahan terhadap hama dan penyakit dan produksinya tinggi. Untuk tanaman sayuran, ada instansi pemerintah yang menangani masalah pembibitan kentang yaitu BBI yang terletak di daerah pangalengan Bandung.
Informasi mengenai teknik budidaya maupun pemasaran tanaman hias terutama bunga potong lili belum sampai ke tingkat petani maupun pengusaha, karena itu informasi teknis merupakan kendala dalam pengembangan usahatani tanaman hias1 2,50(%). Upaya penanggulangan masalah informasi teknis tanaman hias, sebaiknya hasil penelitian yang diperoleh dari instansi yang terkait disebarkan ke pengusaha maupun ke petani, sehingga usahatani tanaman hias akan lebih berkembang.
Masalah lainnya seperti modal, sarana produksi dan harga, produsen tidak mendapat kesulitan yang berat. Modal bisa diperoleh dengan meminjam ke KUT dengan bunga yang rendah. Sarana produksi mudah didapat di toko pertanian terdekat. Harga bunga potong lily cukup tinggi Rp. 1.500 per kuntum di tingkat petani bahkan pedagang mengambil langsung ke kebun petani.
Karakteristik Pedagang
Lili merupakan salah satu bunga potong yang sangat digemari masyarakat dan mempunyai nilai ekonomis tinggi dibandingkan dengan bunga potong lainnya. Harga jual di tingkat produsen berkisar antara Rp. 1.500 – Rp. 3.000 per kuntum dan harga jual di tingkat pedagang berkisar antara Rp. 3.000 – Rp. 6.000 per kuntum. Golongan konsumen yang menggunakan lily mulai dari golongan menengah ke atas, karena harga lily cukup mahal. Lily digunakan untuk pesta perkawinan, ulang tahun, upacara adat, ritual keagamaan dan peringatan hari besar nasional.
Di samping harganya cukup tinggi juga konsumennya terbatas dari golongan menengah ke atas. Di Jawa Barat lokasi penjualan tanaman hias yang terbesar terletak di Wastukencana Bandung yang terdiri dari 40 kios penjual aneka bunga potong dan rangkaian. Akan tetapi penjual bunga potong lili hanya 6 pedagang (15%) dari seluruh pedagang dibabkan oleh pasokan lili dari produsen yang kurang.
Dari Tabel 4 tampak bahwa bunga potong lili banyak diperdagangkan di toko bunga atau ploris.
Tabel 4. Klasifikasi Pedagang bunga potong lily di Pulau Jawa dan DKI Jakarta tahun 2002 (Classification of lily flower businessman in Java Island and Jakarta City in 2002)
|
No. |
Propinsi (Profinces) |
Alamat (Addres) |
Klasifikasi (Classification) |
Pedagang Tanaman Hias (Number of ornomental trader) |
Pedagang Lili (n 35) (Lily trader) |
% (Percentage) |
|
1 |
Jawa Barat |
Wastukencana |
Floris |
40 |
6 |
15 |
|
2 |
Jawa Tengah |
Ambarawa |
Floris |
10 |
2 |
20 |
|
3 |
Jawa Timur |
Surabaya |
Floris |
20 |
4 |
20 |
|
|
|
Malang |
Floris |
20 |
3 |
15 |
|
4 |
DKI Jakarta |
Rawabelong |
Floris |
51 |
10 |
19 |
|
|
|
Barito |
Floris |
20 |
5 |
25 |
|
|
|
Cikini |
|
15 |
5 |
20 |
Sumber data : Data primer yang diolah
Di samping harganya cukup tinggi juga konsumennya terbatas dari golongan menengah ke atas. Di Jawa Barat lokasi penjualan tanaman hias yang terbesar terletak di Wastukencana Bandung yang terdiri dari 40 kios penjual aneka bunga potong dan rangkaian. Akan tetapi penjual bunga potong lili hanya 6 pedagang (15%) dari seluruh pedagang dibabkan oleh pasokan lili dari produsen yang kurang. Di Jawa Tengah jumlah pedagang tanaman hias bunga potong ada 10 pedagang, tetapi hanya 2 orang yang menjual bunga potong lili (20%). Hal ini disebabkan di daerah setempat belum ada produsen lili, sehingga pedagang terpaksa membeli bunga potong lili dari Jawa Barat. Di Jawa Timur, lokasi penjualan terletak di Malang dan Surabaya. Di Malang dari 20 pedagang yang ada, yang menjual bunga lili hanya 3 orang (15%) dan di Surabaya, dari 20 orang pedagang yang menjual bunga lili hanya 4 orang (20%). Hal ini disebabkan pasokan lili dari produsen bunga jumlahnya sedikit.
DKI Jakarta lokasi penjualan tersebar di beberapa tempat tetapi yang paling besar terdapat di pusat promosi dan penjualan tanaman hias Rawabelong. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pasokan dari produsen, sehingga lily impor harus mulai masuk ke Rawabelong dengan harga yang lebih tinggi dari lily lokal dan kualitas bunganya lebih baik.
Lokasi pemasaran tanaman hias di DKI Jakarta terdapat di 10 lokasi pemasaran. Yang terletak di Jakarta Pusat ada 3 lokasi, Jakarta Barat ada 3 lokasi, Jakarta selatan ada 3 lokasi dan Jakarta Timur hanya 1 lokasi. Dari ke 10 lokasi pemasaran tersebut yang paling besar adalah pasar Rawabalong yang terdiri atas 51 floris.
Pada umumnya pedagang tanaman hias dan bunga potong menghadapi beberapa masalah dalam usahanya, di antaranya masalah kualitas bunga, harga, ketahanan simpan, kerusakan hasil dan perjalanan, barang sisa penjualan (BS) dan pasokan dari produsen kurang. Data tentang hal itu dapat dilihat pada Tabel 5.
Masalah yang dirasakan oleh pedagang terutama adalah banyaknya barang yang merupakan sisa hasil penjualan (BS) (42,8%). Hal ini disebabkan oleh kualitas lili yang tidak memenuhi standar konsumen, yang berakibat pedagang mengalami kerugian karena BS dijual setengah harga. Untuk memperbaiki hal tersebut perlu adanya pembinaan dari instansi terkait dari mulai produsen sampai pedagang mengenai standar kualitas lili yang layak. Pedagang tanaman hias masih kekurangan pasokan bunga lili dari petani atau pengusaha terutama lili lokal (28,6%), maka untuk memenuhi permintaan konsumen, pedagang membeli lili impor dari perusahaan dengan harga lebih tinggi dari lili lokal, tetapi kualitasnya lebih baik dari lili lokal.
Kerusakan bunga lili akibat pengangkutan (8,6%) dari produsen sampai ke pedagang yang jaraknya cukup jauh menimbulkan kerugian bagi pedagang. Untuk mengatasi hal tersebut, maka perlu penanganan pascapanen yang lebih baik untuk bisa menekan kerusakan barang akibat perjalanan jauh.
Tabel 5. Masalah yang dihadapi pedagang lili lokal di Pulau Jawa dan DKI Jakarta tahun 2002 (Some problem faced by lily flower businessman in Java Island and Jakarta City in 2002).
|
No. |
Komponen Masalah (Problems) |
Jumlah Pedagang (n 35) (Number of trader) |
Persentage (%) |
|
1. |
Kualitas bunga (Flower quality) |
3 |
8,6 |
|
2. |
Fluktuasi harga (Price fluctuation) |
2 |
5,7 |
|
3. |
Kerusakan di perjalanan (Transportation damages) |
3 |
8,6 |
|
4. |
Pasokan dari produsen (Producer supply) |
10 |
28,6 |
|
5. |
Barang sisa (BS) (off grade flower) |
15 |
42,8 |
|
6. |
Ketahanan bunga (Vaselife) |
2 |
5,7 |
Sumber data : Data Primer yang diolah
KESIMPULAN
1. Masalah umum yang dirasakan oleh pelaku bisnis tingkat petani, adalah Penyakit busuk akar dan umbi (43,75 %) yang disebabkan oleh cendawan Fusarium yang mengakibatkan penurunan produksi bunga dan bibit, bibit yang berkualitas baik susah didapat (25 %) sehingga untuk mendapatkannya harus impor dan informasi teknik (31 %) belum sampai ke petani maupun pengusaha.
2. Masalah yang dihadapi pelaku bisnis tingkat pedagang, adalah Barang sisa penjualan (BS) (42,8 %) sering mengakibatkan kerugian pedagang karena harganya setengah harga pasaran bahkan kalau tidak laku dibuang, pasokan dari petani kurang dan kualitasnya kurang memenuhi standar (28,6 %), kualitas bunga lily lokal (8,6 %) lebih rendah dari lily impor dan kerusakan akibat perjalanan jauh cukup tinggi (8,6 %) akibat kurang menguasai teknologi pasca panen.
PUSTAKA
1. Ameriana, M.R, Majasastra, T. Sutater dan D. Komar. 1991. Analisis usahatani bunga potong gladiol. Proseding Seminar Tanaman Hias. hlm 131-141.
2 Adiyoga, W. 1994. An index for management for potato farmers in Wonosobo. Central Java. Bul. Penel. Hort. XXVI (4):57-62.
3.——, R. S. Basuki, Y. Hilman dan B. K. Udiarto. 1996. Studi “baseline” identifikasi dan pengembangan PHT pada tanaman cabai di Jawa Barat. Laporan Temu Teknologi dan Persiapan Pemasyarakatan Pengendalian Hama Terpadu. Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang. Hlm 421-450.
4. Asbindo, 1998. Buletin Asbindo No. 47, Juli, Asbindo Bunga Jakarta
1. Bollen, E.J. 1972. Pathogenicity of fungi isolated from stens and bulds of lilies and their sensitivy to benomyl. Netherlands Plant Pathology 83 (Supplement 1):137-139.
2. Dinas Pertanian dan Kehutanan, 2002. Potensi Pasar Bunga dan Tanaman Hias. Laporan Tahunan. Jakarta. 22 hal.
3. Floriculture, 1999. World Floricultural by the numbers. March, 1997. P. 30-39.
8. Imle E.P. 1942 a. The basal pot diseases of lilie. Conell University. 79. Pp.
9. Imle E.P. 1942. B. Bud diseases of lilies. The Yearbook of the American Horticulture Society. Hal 30-41.
10.Lindermann, R.E. 1977. Fusarium diseases of lilies. The Lily Yearbook of the North American Lily Society. 30:70-76.
11.Marwoto, B., M. Dewanti dan K. Yuniarto, 1999. Hibridisasi intensiti lily. Laporan RUT VII. Kantor Menristek. Jakarta. 12 hal.
12.Marwoto, B., T. Sutater dan Suciantini, 1997. Modifikasi pola Night Break dan Intensitas Cahaya pada Krisan untuk Efisiensi Energi. Laporan Hasil Penelitian.
13.Kusumah, E. 1994. Tataniaga Perilaku Konsumen Bunga Potong. Bul Penel Tan Hias (2) hlm 32-40.
14.Singaribuan, M., Effendie, K. 1985. Metode Survei, LP3TS. Jakarta
15.Soetiarso, T. A. 1994. Analisis usahatani cabai merah di tingkat Petani. Bul. Penel. Hort. XXVI (2) :72-83.
16.Van Santen, C. E. and Heriyanto. 1986. Methodological aspects on-farm research with a farming systems perspective : MARIF’S on-farm rereasch programme for maize-based farming systems. In Socio-Economic. Research on Food Legumes and Coarse Grains Methodological Issues. CGPRT No. 4:33-73.
13. Van Tuyl. 1997. Dutch-growth lilium longiflorum a Reality. The Lily Yearbook of North American Lily Society. 41:35-37.
SUMBER : Komar, D., Nurmalinda, A. Wasito, dan W. Adiyoga. 2004. Identifikasi Masalah Pelaku Bisnis Lili. Prosiding Seminar Nasional Florikultura Bogor, 4-5 Agustus :309 – 318
