Tanaman Sansevieria biasanya dibudidayakan melalui stek daun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan regenerasi stek daun 2 jenis lidah mertua berdaun variegata, yaitu S. grandis hahnii dan S. trifasciata laurentii di bawah pengaruh zat pengatur tumbuh IBA (indole butyric acid). Bagian potongan stek daun direndam selama 24 jam bahan induksi IBA diberikan masing-masing dengan konsentrasi 100 ppm dan kemudian ditanam pada media pasir steril dengan menggunakan rancang acak kelompok. Kemampuan regenerasi diamati setiap bulan selama 3 bulan. Hasil penelitian terlihat bahwa kedua jenis menghasilkan tunas yang anakan berdaun hijau 19,44% akan tumbuh sebagai S. grandis, dan sebagian besar 80,56% tunas berwarna kuning. Pada stek daun S. trifasciata laurentii hanya 0,57% tunas variegata seperti induknya, kemudian 88,82% tunas barwarna hijau akan tumbuh menjadi tanaman S. trifasciata dan tunas yang berwarna kuning 8,03% juga tidak dapat bertahan hidup. Hasil uji statistik menunjukan setiap perlakuan memberikan perbedaan yang signifikan untuk setiap perlakukan (p ≤ 0,5). Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa hasil anakan stek dari kedua jenis Sansevieria tidak menghasilkan anakan yang sama dengan induknya, sehingga cara perbanyakan melalui stek tidak bisa digunakan untuk S. grandis hahnii dan S. trifasciata laurentii.
Kata Kunci : Sansevieriaceae, S. grandis hahnii, S. trifasciata laurentii, zat pengatur tumbuh, IBA, stek daun.
ABSTRACT. Sulianti, S.B. 2004. Regeneration of leaf on two species of Sansevieria that variegata. Sansevieria is commonly cultivation by leaf cutting. This experiment was conducted to observed the regeneration capability of leaf cutting of two species mother in law tongue (S. grandis hahnii and S. trifasciata laurentii ) with variegata leaves under influence of growth hormone regulator IBA (indole butyric acid). The part of leaf cutting of each species was submerged in IBA solution (100 ppm) for 24 hours and then it was planted on sterilized sand medium with the randomized method. The regeneration capability was observed every month for 3 month period. The results showed that both species could probabled, the green color buds was 19.44%, and it would be growth to be S. grandis and yellow color buds was 80.56%. The leaf cutting of S. trifasciata laurentii only propagated buds likes original was 0.57 %, while the green color buds was 88.82 %, it will be became to S. trifasciata , while the yellow color buds was 8.03 % and it could not survived and it will be dead. Statistical calculation showed that buds of leaf cutting from both Sansevieria gave significant differential of each treatments (p ≤ 0,5). From this experiments it was known that the buds from leaf cutting of both species Sansevieria could not propagate buds as well as the original, so this method can not be used for propagating of S. grandis hahnii dan S. trifasciata laurentii.
Keywords : Sansevieriaceae, S. grandis hahnii, S. trifasciata laurentii, growth hormone regulator, IBA, leaf cutting.
Keywords : Sansevieriaceae, S. grandis hahnii, S. trifasciata laurentii, growth hormone regulator, IBA, leaf cutting.
Tanaman Lidah mertua (Mother in law tongue) yang dikenal dengan sebutan ilmiah Sansevieria, adalah merupakan jenis tumbuhan termasuk kelompok suku Sansevieriaceae, tetapi ada beberapa publikasi yang mengelompokannya dalam suku Liliaceae atau Agavaceae. Beberapa sumber melaporkan bahwa marga Sansevieria secara keseluruhan terdiri atas 54 jenis, tetapi sumber lain menyebutkan di dunia terdapat 60 jenis (Bailey, 1939; Purseglove, 1975; Suci, 1991; Dep. Kes. RI., 1997). Variegata adalah merupakan fenomena pada suatu tanaman, terutama pada marga Sansevieria yang mempunyai daun berwarna putih, kuning atau kombinasi hijau-kuning disebabkan oleh adanya leukoplas pada sel daunnya (Evenari, 1989).
Dari sekian banyak jenis Sansevieria terdapat 2 jenis yang merupakan tanaman yang bersifat variegata, yang mempunyai daun berwarna kombinasi hijau-kuning yaitu: Sansevieria trifasciata laurentii (S. laurentii) dan S. grandis hahnii (S. hahnii) (Brugemann, 1948; Hay, 1989; Graf, 1992; Crockett, 1972; Yuliaty, 2003). Penampilan variegata yang sangat kontras pada tanaman lidah mertua (Sansevieria ) sangat eksotik, sehingga banyak dimanfaatkan sebagai tanaman hias, untuk tanaman pagar penghias halaman atau tanaman pot penghias ruangan (Suci, 1991; Julianti, 2003). Jenis S. grandis hahnii juga dipergunakan untuk tanaman dalam botol atau ferrarium (Yulianty, 2003), sedangkan S. trifasciata laurentii merupakan komoditi ekspor dipasarkan Amerika Serikat, Eropa Timur Tengah dan terutama ke Jepang (Julianti, 2003).
S. grandis hanii dan S. trifasciata laurentii juga mempunyai khasiat obat, bagian yang digunakan adalah bagian akar/rimpang dan dipergunakan untuk mengobati penyakit saluran pernafasan (bronkhitis). Sedangkan daunnya untuk mengobati influenza, borok, luka gigitan ular berbisa, luka akibat kena pukulan dan dapat untuk penyubur rambut. Tanaman itu mengandung antibiotika. Kandungan kimia yang telah diketahui terdapat pada S. trifasciata dan S. trifasciata laurentii adalah, polifenol, kardamin dan abamagenin (Wijayakusuma, 1996; Dep. Kes. RI, 1997). Perlu diketahui pula bahwa tanaman lidah mertua dapat menetralisasi ruangan dari polusi asap rokok.
Menurut beberapa pustaka budidaya tanaman lidah mertua atau Sansevieria dapat dilakukan dengan cara stek daun atau melalui rimpangnya (Bailey, 1939; Hartman, 1968; Crockett, 1972; Weaver, 1972). Untuk merangsang atau mempercepat pertumbuhan stek daun suatu tanaman, biasa digunakan hormon pengatur tumbuh antara lain, Routonef, Indole Butyric Acid (IBA), NAA dan IAA (Hartmann, 1968; Weaver 1972)
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah cara induksi menggunakan IBA (indole butyric acid) dapat meningkatkan kemampuan serta kecepatan regenerasi setiap helaian daun S. grandis hahnii dan S. trifasciata laurentii dan tunas anakannya yang dihasilkan apakah menyerupai tanaman induknya.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan waktu penelitian
Penelitian dilakukan di laboratorium Treub, Bidang Botani, Pusat Biologi LIPI, Bogor, dengan waktu penelitian selama 3 bulan antara bulan November 1996 sampai dengan Februari 1997.
Bahan Penelitian
Tanaman yang dipergunakan sebagai bahan penelitian adalah lidah mertua, yang mempunyai daun bercorak variegata. Bagian tanaman yang digunakan adalah helaian daun S. grandis hahnii (S. hahnii). Sedangkan tanaman S. trifasciata laurentii yang dipilih untuk penelitian, yaitu tanaman yang mempunyai daun berjumlah 5. Helaian daun dari masing jenis yang diambil untuk penelitian yaitu:
D1 (Daun nomor 1 atau bagian pucuk)
D2 (Daun nomor 5 dari pucuk)
D9 (Daun nomor 9 dari pucuk)
Kemudian stek daun dari kedua jenis tanaman tersebut ditanam pada nampan plastik dengan media tanam pasir steril (pasir yang dicuci dan disiram dengan air panas) untuk memacu pertumbuhan tunas digunakan IBA dengan konsentrasi 100 ppm.
Metode Penelitian
Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok dan setiap kelompok (wadah) terdiri 40 stek daun dan 8 stek daun.
- S. grandis hahnii (S. hahnii) diperlukan sebanyak 40 tanaman yang mempunyai jumlah daun 12-15 lembar. Nampan plastik yang digunakan untuk penelitian berukuran 15 x 21 cm Masing-masing perlakukan D1, D5 dan D9 terdiri dari terdiri 40 stek daun dan ditanam di dalam 4, masing-masing terdiri dari 10 helai daun. Sebelum helaian daun ditanam pada media pasir bagian pangkal daun direndam dalam 100 ppm IBA selama 24 jam. Pengamatan pertumbuhan akar dan tunas dilakukan pada umur 30 hari (1 bulan) dan 90 hari (3 bulan).
- S. trifasciata laurentii yang diperlukan dalam percobaan ini sebanyak 3 tanaman yang seragam dan mempunyai 5 daun, setiap daun dipotong menjadi 8 bagian dan masing-masing dalam sebanyak 8 stek daun, yaitu;
P1 : potongan daun bagian pangkal
P2 – P8 : berturut-turut bagian daun paling ujung/atas
Masing-masing potongan helaian daun, sebelum ditanam direndam dalam 100 ppm IBA selama 24 jam, kemudian setiap satu helaian daun yang dipotong menjadi 8 bagian, ditanam pada 1 nampan plastik berukuran 20 x 27 cm secara berurutan menjadi 2 barisan, kiri P1 – P4 dan kanan P5 – P8. Pengamatan pertumbuhan akar dan tunas dilakukan pada umur tanaman 30 hari (1 bulan) dan 90 hari (3 bulan).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan pertumbuhan stek daun tanaman S. grandis hahnii terlihat bahwa rata-rata panjang akar D1 umur 30 hari lebih pendek daripada D5 dan D9, hal ini disebabkan karena D1 dapat membentuk tunas sebelum akarnya tumbuh Nilai rata-rata jumlah akar ternyata D9 lebih banyak dari pada D1 dan D5, karena permukaan basalnya lebih besar dibandingkan D5 dan D1 (paling sempit). Persentase jumlah stek daun yang berakar pada umur 30 hari D1 paling tinggi, terlihat bahwa jaringan basal daun bersifat lebih meristematis. Persentase jumlah stek daun yang bertunas D1 lebih cepat dibandingkan D5 dan D9. Jumlah tunas D1 lebih banyak daripada D5 dan D9 terbukti bahwa D1 mempunyai jaringan meristematik lebih aktif. Jumlah kombinasi warna tunas yang tumbuh mempunyai daun hijau 19,44% akaln tumbuh sebagai S grandis, tunas yang berwarna kuning 80,56% hidupnya tidak berlangsung lama karena tidak mengandung khlorofil dan akhirnya mati. Stek daun S. grandis hahnii tidak menghasilkan tunas variegata hijau kuning-kuning seperti induknya. Hal ini memperlihatkan bahwa teknik budidaya dengan stek daun tidak dapat diterapkan dalam perbanyakannya, atau dengan kata lain tidak mampu beregenerasi menyerupai induknya. Karena tunas yang tumbuh hanya berwarna hijau seperti halnya S. grandis, maka nama jenis S. grandis hahnii tidak tepat untuk hasil perbanyakan yang dilakukan secara stek daun (Gambar 1 dan 2, Tabel 1).

Gambar 1.(kiri) Tanaman Sansevieria grandis hanii dan Gambar 2.(kanan) Hasil stek Sansevieria grandis hanii
Tabel 1: Pertumbuhan stek daun S. grandis hahnii pada umur 30 dan 90 hari (The growth of leaf cutting of S. grandis hahnii on 30 and 90 days of age)
|
Bagian lembar daun ke- |
D1 |
D5 |
D9 |
|
| Rata-rata panjang akar (cm) (Average roots length) | 30 hari |
3,61 |
3,93 |
4,18 |
| 90 hari |
5,49 |
5,52 |
5,09 |
|
| Rata-rata jumlah akar (Average number of roots) | 30 hari |
3,44 |
3,42 |
3,87 |
| 90 hari |
15,70 |
16,32 |
17,10 |
|
| Persentase jumlah stek daun berakar (%) (Percentage of the number of rooting of leaf cutting) | 30 hari |
92,50 |
77,50 |
72,50 |
| 90 hari |
100 |
100 |
100 |
|
| Jumlah tunas yang tumbuh (The number of buds grow) | 30 hari |
41 |
25 |
7 |
| 90 hari |
47 |
33 |
28 |
|
| Presentase jumlah stek daun yang bertunas (%) (Percentage of the number of buds of leaf cutting) | 30 hari |
91,21 |
30,30 |
17,50 |
| 90 hari |
100 |
82,50 |
70 |
|
| Jumlah kombinasi warna tunas umur 90 hari (The number of color combination of buds in 90 days of age) | Hijau |
9 |
6 |
6 |
| Kuning |
38 |
27 |
22 |
|
| Variegata |
0 |
0 |
0 |
|
D1 : Daun nomor 1 atau bagian pucuk (leaf no. 1 of the tip part)
D2 : Daun nomor 5 dari pucuk (leaf no. 5 from the tip)
D9 : Daun nomor 9 dari pucuk (leaf no. 9 from the tip)
Dari hasil pengamatan pertumbuhan S. trifasciata laurentii dapat diketahui bahwa pertumbuhan akar rata-rata jumlah dan panjang akar terlihat potongan bagian ujung atas (P8) paling cepat, sedangkan potongan daun bagian pangkal (P1) paling lambat. Kalau dilihat pertumbuhan tunasnya setiap potongan helaian daun P8 pada umur 30 hari terjadi pertumbuhan tunas dengan jumlah tunas paling tinggi 13, kemudian pada umur 90 hari pertumbuhan tunas pada helaian daun perlakukan P5 berjumlah 30 lebih tinggi, dibandingkan dengan P8 yang mempunyai pertumbuhan tunas 29. Hal ini terjadi karena permukaan perakaran pada P5 lebih luas dibandingkan P8. Persentase pertumbuhan tunas dari setiap perlakukan pada umur 90 hari P1 mempunyai pertumbuhan tunas yang paling rendah 26,67%, dibandingkan dengan perlakukan lainnya P2 (53,33 %), P3 (86,67 %), P4 (86,67 %), P6 (80 %), P7 (86,67 %) dan yang paling tinggi persentase pertumbuhan tunasnya adalah P5 (100 %) dan P8 (93,33 %). Dari jumlah kombinasi warna tunas pada umur 90 hari yang berwarna hijau (90,34%) akan tumbuh menjadi S trifasciata, tunas yang berwarna kuning (9,09%) dan tunas yang tumbuh berwarna variegata hijau kuning (0,57%). Tanaman yang berasal dari tunas dan berwarna kuning tidak bisa tumbuh lama dan kahirnya akan mati. Dari pengamatan ini menunjukkan bahwa S. trifasciata laurentii mempunyai kemampuan regenerasi sangat kecil sekali dan diketahui bahwa, aktifitas regenerasi hanya ada pada jaringan sel yang terdapat di bagian pangkal daun (Gambar 3 dan 4, Tabel 2)

Gambar 3.kiri) Tanaman Sanseviera trifaciata laurentii dan Gambar 4.(kanan) Hasil stek Sanseviera trifaciata laurentii
Tabel 2: Pertumbuhan Stek daun S. trifasciata laurentii pada umur 30 hari dan 90 hari (The growth of leaf cutting of S. trifasciata laurentii in 30 and 90 days of age)
|
agian potongan daun (Part of leaf cutting) |
Rata-rata panjang akar (cm) (Average of root length) |
Rata-rata jumlah akar (Average of the number of root) |
Presentase jumlah stek daun berakar(%) (Percentage of the number rooting of leaf cutting) |
|||
|
30 hr |
90 hr |
30 hr |
90 hr |
30 hr |
90 hr |
|
|
P1 |
1,67 |
488 |
6,47 |
23,13 |
8,7 |
10,0 |
|
P2 |
1,58 |
4,60 |
9,77 |
28,20 |
17,17 |
18,0 |
|
P3 |
1,70 |
5,10 |
12,06 |
34,33 |
26,67 |
100 |
|
P4 |
1,90 |
5,37 |
25,33 |
47,27 |
22,27 |
100 |
|
P5 |
1,78 |
5,48 |
29,67 |
54,33 |
34,75 |
100 |
|
P6 |
1,73 |
4,82 |
22,73 |
50,80 |
34,75 |
100 |
|
P7 |
1,66 |
4,48 |
34,50 |
58,67 |
32,57 |
100 |
|
P8 |
1,93 |
5,33 |
42,27 |
61,73 |
45,13 |
100 |
|
Bagian potongan daun (Part of leaf cutting) |
Jumlah tunas tumbuh (The number of buds grow) |
Presentase jumlah stek daun bertunas (%) (Percentage of the number of buds of leaf cutting) |
Jumlah kombinasi warna tunas (The number of color combination of buds) |
||||
|
30 hr |
90 hr |
30 hr |
90 hr |
Hijau |
Ku-ning |
Varie- gata |
|
|
P1 |
3 |
14 |
6,67 |
26,67 |
13 |
0 |
1 |
|
P2 |
0 |
18 |
0 |
53,33 |
17 |
1 |
0 |
|
P3 |
0 |
18 |
0 |
86,67 |
18 |
0 |
0 |
|
P4 |
2 |
26 |
66,7 |
86,67 |
24 |
2 |
0 |
|
P5 |
5 |
30 |
20 |
100 |
29 |
1 |
0 |
|
P6 |
3 |
23 |
20 |
80 |
21 |
2 |
0 |
|
P7 |
1 |
18 |
6,67 |
86,67 |
16 |
2 |
0 |
|
P8 |
13 |
29 |
20 |
93,33 |
21 |
8 |
0 |
P1 : potongan daun bagian pangkal (base part of leaf)
P2 – P8 : berturut-turut bagian daun paling ujung/atas (in a row to the tip of leaf)
Dari kedua penelitian ini diketahui, bahwa budidaya perbanyakan tanaman lidah mertua yang mempunyai daun variegata tidak dapat dilakukan dengan menggunakan cara stek daun. Bagian stek daun yang mempunyai aktifitas pertumbuhan paling cepat adalah D1 pada S grandis hahnii dan P8 pada S trifasciata laurentii. Karena kedua bagian stek daun itu mempunyai jaringan sel yang bersifat meristematis. Secara statistik dari penelitian ini terlihat bahwa setiap perlakuan dari masing-masing jenis menunjukan perbedaan yang bermagna (signifikan) dengan nilai p ≤ 0,5.
Menurut Evenari (1989) warna putih, kuning, variegata pada suatu tanaman disebabkan oleh adanya leucoplast dengan variasi posisi plastida dan variegata (hijau-kuning) disebabkan karena adanya 2 macam jaringan yang tumpang tindih (overlapping). Tunas yang berwarna kuning tidak bertahan hidup, karena tidak mengandung khlorofil untuk bisa melakukan fotosintesa.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan yaitu, bagian daun lidah yang mertua bersifat meristematik pada S. grandis golden hahnii adalah D1 (daun pucuk atas), sedangkan pada S. trifasciata laurentii adalah bagian potongan daun P8 (pucuk daun / ujung atas daun),dan bagian daun yang mampu melakukan regenerasi adalah P1 (bagian pangkal daun). Teknik budidaya perbanyakan tanaman lidah mertua berdaun variegata tidak dapat dilakukan melalui stek daun. Status nama jenis S. trifasciata golden hahnii yang diperoleh dari hasil perbanyakan stek daun yang berwarna hijau seharusnya disebut S. grandis golden hahnii.
PUSTAKA
1. Bailey, LH. 1939. The Standard Cyclopedia of Horticulture, Vol. III – P-Z., The MacMillan Co., New York.
2. Brugemann, L. en O. Soerjadi. 1948. Indisch Tuinbook, 2 Druk, Sprenghel, Amsterdam.
3. Budavary, S., Neil, MJO., Smith, A., Heckelman, PE. And Kinneary, JF. 1996. The Merck Index 12th Ed. Merck & Co. Inc. White House Station New Yersey.
4. Crockett, JU. 1972. Foliage Home Plants, ed. Time Life Books, Alexandria, Virginia USA.
5. Departemen Kesehatan R.I. 1997. Inventarisasi Tanaman Obat Indonesia, Vol. IV, Dep. Kes. R.I., Jakarta.
6. Evenari, M. 1989. The History of Research on white – Creen Variegated Plants, The. Bot. Rev., Vol. 55: 106-131.
7. Graf, AB. 1992. Colour Cyclopedia of Exotic Plants and Trees, 4 th eds., Macmillan, New York.
8. Hartmann, HT. and Kesler, DE. 1968. Plant Propagation, Principles and Practices, Hall. Inc., Englewood Cliff New Yersey.
9. Hay, R. and Synge, PM. 1989. The Dictionary of Garden Plants in Colour With House and Green House Plants, The Roy Horticultural Society Press and Michael Joseph, Great Britain.
10. Juliati, ED. 2003. Hujan Emas di lapangan Sanseviera, Trubus 405 (XXXIV) 94-95.
11. Purseglove, JW. .1975. Tropical Crops Monocotyledons, 2nd eds., Longman, London
12. Sastradipradja, S. 1997. Tanaman Hias, Lembaga Biologi Nasional, LIPI, Bogor.
13. Suci, P.S. 1991. Sanseviera Si Lidah Mertua Yang Cantik, Trubus 256, Th. XXII: 116.
14. Weaver, RJ. 1972. Plants Growth Substances in Agriculture., W.H. Freeman & Co., San Fransisco.
15. Yuliaty, F. dan Arifin NHS. 2003. The Effect of Water Volume and Watering Frequency on Growth and Visual Quality of Ornamental Plats and Terrariums, Kumpulan Abstrak Seminar Nasional X PERSADA, dalam rangka HUT Persada ke-10 dan Unsada ke-17, diselenggarakan di Jakarta 4 Juli 2003
Tanya Jawab :
Penanya : Ir. Debora Herlina, MS.
Instansi : Balai Penelitian Tanaman Hias
Pertanyaan :
Dari mana diambil nama spesies Sansevieria ?, grandis hahnii bukan nama spesies.
Jawaban :
Nama S. trifasciata golden hahnii diambil dari buku Graf (Daftar pustaka). Nama yang benar S. grandis hanii (sudah diuraikan pada pendahuluan).
SUMBER : Sulianti, S.B.2004. Kemampuan Regenerasi Daun pada Dua Jenis Tanaman Sansevieria yang Berdaun Variegata.Prosiding Seminar Nasional Florikultura Bogor, 4-5 Agustus :406 – 411.

informasi yang sangat lengkap, terimakasih.