ABSTRAK. Wuryaningsih, S., Suhardi, 2004. Pemupukan Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Kultivar Anyelir. Budidaya anyelir memerlukan pemupukan yang intensif yang berkesinambungan untuk mendapatkan kualitas bunga yang diinginkan. Penelitian dengan tujuan mendapatkan formula pemupukan pada beberapa kultivar anyelir bunga potong dilakukan di rumah plastik Balithi dengan ketinggian + 1100 m dpl. Percobaan menggunakan Rancangan Split Plot dengan 3 ulangan. Petak utama adalah 4 Formula pemberian pupuk dan anak petak adalah 3 kultivar/klon anyelir yaitu Ragio de Sole (Orange), Yellow Liberty (Kuning) dan Lokal (Merah fanta). Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula pupuk 3,4 – 4,8 kg/m2 pupuk organic + 8,5 g/ m2 TSP + 1,8 g/ m2 KCL sebagai pupuk dasar, dan pupuk susulan 2 g urea + 2 g ZA + 0,1 g TSP + 1 g KNO3 dilarutkan dalam 1liter air disemprotkan 1 x per minggu untuk 5 tanaman, mempunyai susunan hara yang paling sederhana, termurah dan nilai EC rendah, menghasilkan pertumbuhan jumlah tunas, inisiasi bunga, panjang tangkai bunga, lama kesegaran bunga, diameter bunga dan produksi bunga/plot yang sama dengan penggunaan formula pupuk lainnya.Kultivar berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah tunas, inisiasi bunga, panjang tangkai bunga, lama kesegaran bunga, diameter bunga dan produksi bunga.Produksi bunga tertinggi adalah kultivar Yellow Liberty selanjutnya diikuti oleh Ragio de Sole dan terrendah lokal.
Kata kunci : Anyelir (Dianthus caryophyllus), Formula pupuk, kultivar, pertumbuhan, Hasil
ABSTRACT. Wuryaningsih, S., Suhardi 2004. Fertilization for Improving the Growth And Production of Several Carnation Cultivars. To produce the best quality of carnation cut flower needs continue of fertilization. The objective of the experiment was to find out the efficient fertilization on several carnation cultivars. The trial was conducted at plastichouse Indonesian Ornamental Plant Research Institute at elevation + 1100 m asl. A split plot design with 3 replications was used. The main plot was four formulation of fertilizer application and the sub plot was 3 carnation cultivars Ragio de Sole, Yellow Liberty and Local carnation. The result showed that the application of 3.4 – 4.8 kg/m2 of manure + 8,5 g/ m2 TSP + 1,8 g/ m2 KCL as basic fertilizer followed by application 2 g urea + 2 g ZA + 0,1 g TSP + 1 g KNO3 which has simple nutrient composition, cheapest, and lowerst EC value, dissolved in 1 l of water/5 plants and applied once a week did not significantly show any differences in bud number, flower initiation formation, flower stalk length, vase life, flower diameter and flower production /plot compare with other formulas. The plant height, bud number, flower initiation formation, flower stalk length, vase life , flower diameter and flower production /plot were significantly different among the 3 cultivars treated.. Yellow Liberty had highest flower production followed by Ragio de Sole and local cultivar.
Key Words: Dianthus caryophyllus, Cultivar, Fertilizer formulation, Growth, Yield
PENDAHULUAN
Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) merupakan salah satu jenis bunga potong yang paling populer di Indonesia. Tanaman ini dibudidayakan petani pada daerah dengan ketinggian 700-1.200 m dpl.
Permintaan anyelir dari tahun ke tahun terus meningkat sejalan dengan membaiknya pendapatan & kesejahteraan masyarakat & tumbuhnya industri pariwisata. Pada tahun 1995, nilai penjualan anyelir di pasar domestik hanya mencapai 3 milyar rupiah, namun pada tahun 1998 nilai tersebut meningkat 30% menjadi 4 milyar rupiah. Peluang pasar di tingkat regional maupun internasional juga sangat cerah. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan impor anyelir di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Kanada, Uni Eropa, & Jepang, yang meningkat 26,8% menjelang tahun 2003. Pengembangan agribisnis anyelir juga dinilai positif ditinjau dari aspek penyediaan lapangan kerja dan perbaikan sistem perekonomian di pedesaan (Dwiatmini et. al., 1994).
Bunga anyelir yang diminati konsumen adalah yang memiliki warna bunga kemerahan, pink, salem, & krem dengan tangkai bunga panjang & ukuran bunga besar, karena mudah dirangkai bersama bunga potong lainnya. Pemupukan merupakan faktor penting dalam budidaya anyelir. Anyelir mempunyai periode berbunga antara 5 – 12 bulan, sehingga untuk mendapatkan kualitas bunga yang diinginkan.dalam budidaya anyelir memerlukan pemupukan yang intensif dan berkesinambungan berdasarkan masa pertumbuhannya. Adanya perbedaan kecepatan penyerapan hara berdasarkan masa pertumbuhan yaitu unsur N, P dan K diserap sedikit sampai dua bulan sesudah pinching, selanjutnya penyerapannya meningkat. Sebagai acuan pemberian pupuk dasar adalah N 6%, P 4%, K 4% , selanjutnya N 77%, P 52%, K 66% pada pemebrian pertama dan pemberian kedua N 17%, P 44%, K 30% dari total pemberian (www.nhri.go.kr/manage/annual/files/e2002_3_54.htm – 12k - 13 Juli 2007). Pada tanaman anyelir diperlukan beberapa kali pemupukan sepanjang masa pertumbuhannya. Beberapa anjuran pemupukan pada anyelir dari beberapa sumber adalah sebagai berikut : 1) Penambahan bahan organik bervariasi jenis dan dosisnya dari berupa sekam padi, jerami & serbuk gergaji, pupuk kandang sapi/kambing yang telah matang, humus/kompos tanaman dengan dosis 0,03 – 0,04 m3/m2.; 2) Penggunaan pupuk dasar dan pupuk susulan dengan dosis dan jenis pupuk yang bervariasi dari pupuk yang sudah di pasaran sampai yang mencampur sendiri dari unsur yang dibutuhkan tanaman; 3) Cara pemberian pupuk dengan melarutkan dalam air bersamaan dengan air penyiraman dengan waktu pemberian yang bervariasi dari 5 hari sekali sampai 2 minggu sekali. Di samping fase pertumbuhan tanaman, musim juga perlu dipertimbangkan (Sosromidjojo, 1993, Luqman, 1992, Tony, 1991, Hardjoko, 1999, Mantrova, 1977, PT Alam Indah). Sedangkan menurut Watanabe, et al, 2005 pemberian total hara N=105 g/m, P2O5=55 g/m, and K2O=160 g/m selama 4 minggu diperoleh hasil terbaik pada kultivar Nora.
Penelitian pemupukan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi beberapa kultivar anyelir bertujuan untuk mendapatkan formula pupuk pada beberapa kultivar anyelir bunga potong dengan harapan diperolehnya pemupukan yang tepat, sederhana dan murah
BAHAN & METODE
Penelitian menggunakan rancangan split plot dengan 3 ulangan pada rumah dengan naungan plastik/kaca. Petak utama adalah 4 formula pupuk dan anak petak adalah 3 kultivar/klon anyelir yaitu K1 = Ragio de Sole (Orange), K2 = Yellow Liberty (Kuning) & K3 = Lokal (Merah fanta). Empat formula pemberian pupuk yaitu 1) Dosis dan cara pemupukan menurut PT Alam Indah yang dimodifikasi yaitu tidak melalui drip tetapi dengan penyiraman yang diberikan setiap minggu (P1). 2) Dosis & cara pemupukan menurut PT Ciputri yang dimodifikasi dengan pemberian setiap minggu (P2). 3) Dosis & cara pemupukan menurut Tony (1991) yaitu pupuk organik 3,4 – 4,8 kg/ m2, pupuk susulan terdiri dari urea 2 g, ZA 2 g, TSP 0,1 g & KNO3 1 g dilarutkan dalam satu liter air untuk 5 tanaman (P3) 4). Dosis & cara pemupukan menurut Bank Sentral Republik Indonesia (2007) yaitu 1 minggu sebelum tanam diberi pupuk dasar yang terdiri atas ZA 75 g; TSP 75 g & KCL 75 g/m2 (P4). Pada fase pertumbuhan vegetatif dipupuk dengan 20 g urea, 20 g ZA & 10 g KNO3 / m2 sedangkan pada fase generatif diberikan 10 g urea, 10 g TSP, 15 g ZA & 25 g KNO3 / m2. Kombinasi perlakuan ada 12 . Setiap kombinasi perlakuan dibutuhkan 28 tanaman per plot (ukuran 150 X 75 cm). Penanaman bibit dilakukan sore hari untuk menghindari stress. Pestisida diberikan mengikuti dosis anjuran dengan frekuensi aplikasi seminggu sekali atau melihat kondisi pertanaman dengan tujuan untuk menjaga pertumbuhan & perkembangan tanaman agar tetap optimal.
Tabel 1. Perlakuan 4 formula pupuk (Four formula fertilizers treatments)
|
Jenis Pupuk (Kinds of fertilizer) |
Formula 1 |
Formula 2 |
Formula 3 |
Formula 4 |
|||
|
P1 |
P2 |
P3 |
P4 |
||||
|
Pupuk dasar (Basic fertilizer) |
|
|
|
|
|||
|
Bahan organik |
0,03 – 0,04 m3 /m2 |
0,03 – 0,04 m3 /m2 |
3,4 – 4,8 kg/ m2 |
0,03 – 0,04 m3 /m2 |
|||
|
ZA (g/m2 ) |
|
|
|
75 |
|||
|
TSP (g/m2 ) |
67 |
67 |
8,5 |
75 |
|||
|
KCL (g/m2 ) |
130 |
130 2 |
2,8 |
75 |
|||
|
MgSO4 (g/m2 ) |
50 |
50 |
|
|
|||
|
Pupuk Susulan (Following fertilizer application) |
|
|
|
|
|||
|
Waktu pemberian (Application time) |
setiap minggu |
setiap minggu |
setiap minggu |
setiap minggu |
|||
|
Cara pemberian (Application method) |
Dilarutkan dlm air & disiramkan |
Dilarutkan dlm air & disiramkan |
Dilarutkan dlm air & disiramkan |
Disebar atau ditabur di antara tanaman |
|||
|
Fase Vegetatif |
Fase Generatif |
Vegetatif – generatif |
Vegetatif – generatif |
Vegetatif-generatif |
Fase Vegetatif |
Fase Generatif |
|
|
|
|
|
April–Sept (MK) |
Okt–Maret (MH) |
|
|
|
|
NPK 15–15–15 (g/m2 ) |
|
|
13,38 |
20 |
|
|
|
|
KCL (g/m2 ) |
|
|
12,8 |
27,25 |
|
|
|
|
Urea (g/m2 ) |
|
|
5,06 |
4,4 |
12,8 |
20 |
10 |
|
ZA (g/m2 ) |
|
|
|
|
12,8 |
20 |
15 |
|
TSP (g/m2 ) |
|
|
|
|
0,64 |
|
10 |
|
Ca (NO3)2 (g/m2 ) |
1,14 |
0,91 |
3 |
2,8 |
|
|
|
|
KNO3 (g/m2 ) |
|
|
2,8 |
3 |
6,4 |
10 |
25 |
|
MgSO4 (g/m2 ) |
0,69 |
0,55 |
|
|
|
|
|
|
KNO3 (g/m2 ) |
0,75 |
0,59 |
|
|
|
|
|
|
KH2PO4 (g/m2 ) |
|
0,63 |
|
|
|
|
|
Peubah yang diamati meliputi : 1) Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang yang berada di atas permukaan tanah sampai ujung daun tertinggi, 2) Jumlah tunas dihitung dengan asusmsi jumlah tunas yang diharapkan akan menghasilkan bunga, 3) Inisiasi bunga dihitung jumlah hari dari tanam sampai muncul kuncup bunga, 4) Produksi bunga dihitung jumlah bunga yang dipanen per plot dengan mempertimbangkan jumlah tanaman yang hidup per plot yang dikonversikan dengan populasi tanaman per plot yaitu 28 tanaman/plot , 5) Panjang tangkai bunga diukur mulai dari pangkal sampai ujung buku tertinggi bawah pangkal leher bunga, 6) Diameter bunga diukur menggunakan jangka sorong/penggaris, saat bunga telah mekar sempurna, 7) Lama kesegaran bunga (vase life) dihitung dari panen bunga sampai mengalami kelayuan awal dimana bunga diletakkan di ruangan dalam botol yang diisi air.
Electric conductivity (EC) dan pH diukur dengan menggunakan alat EC & pH meter. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan sidik ragam & uji lanjutan menggunakan uji Beda Nyata Jujur pada taraf nyata 5 %.
HASIL & PEMBAHASAN
Formula pupuk terhadap pertumbuhan dan produksi bunga
Tanaman dipinching 1 kali sehingga pengamatan pertumbuhan tanaman terutama tinggi tanaman & jumlah tunas dapat diamati pada umur 8 minggu sesudah tanam. Analisis data yang disajikan pada Tabel 2 dapat diketahui bahwa formula pupuk berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman sampai dengan pengamatan minggu ke 10, pada pengamatan selanjutnya formula pupuk tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman. Hal ini diduga disebabkan fase pertumbuhan mulai memasuki fase generatif sehingga pertumbuhan vegetatifnya melambat.
Tabel 2 : Pengaruh formula pupuk terhadap tinggi tanaman anyelir (The effect of fertilizer formula on plant height of carnation), Segunung, 2004)
|
Formula pupuk (Fertilizer formula) |
Tinggi tanaman pada minggu ke (Plant height at weeks….)
|
||||
|
8 |
10 |
12 |
14 |
16 |
|
|
|
………………………………cm……………………………….. |
||||
|
P1 |
14,88 b |
19,81 b |
28,43 a |
36,12 a |
44,77 a |
|
P2 |
19,70 a |
24,00 a |
33,20 a |
40,87 a |
49,40 a |
|
P3 |
16,83 ab |
22,91 a |
32,33 a |
40,61 a |
50,96 a |
|
P4 |
17,09 ab |
21,72 ab |
31,73 a |
38,67 a |
48,22 a |
Tabel 3 : Pengaruh Formula pupuk terhadap jumlah tunas anyelir (The effect of fertilizer formula on bud numbers of carnation), Segunung, 2004
|
Formula pupuk (Fertilizer formula) |
Jumlah tunas pada minggu ke (Bud number at weeks…. |
|||||
|
8 |
10 |
12 |
14 |
16 |
18 |
|
|
P1 |
3,11 a |
4,40 a |
4,40 a |
4,47 a |
4,47 a |
4,51 a |
|
P2 |
3,49 a |
4,69 a |
4,69 a |
4,76 a |
4,76 a |
4,62 a |
|
P3 |
3,08 a |
4,44 a |
4,44 a |
4,51 a |
4,51 a |
4,47 a |
|
P4 |
3,13 a |
4,53 a |
4,53 a |
4,39 a |
4,39 a |
4,42 a |
Analisis data pada tabel 3 dan 4 dapat diketahui bahwa formula pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas, inisiasi bunga, panjang tangkai bunga, lama kesegaran bunga, diameter bunga dan produksi bunga/plot. Selanjutnya pada Tabel 5 menunjukkan bahwa formula pupuk berpengaruh nyata terhadap nilai daya hantar listrik dari media, yaitu terrendah formula P3 yaitu 1,58 d S/m, sedangkan baik formula P1, P2 & P4 tidak berbeda nyata yaitu masing – masing 4,09; 4,48 & 4,44 d S/m.
Tabel 4 : Pengaruh formula pupuk terhadap inisiasi bunga, panjang tangkai bunga, lama kesegaran bunga, diameter bunga dan produksi bunga/plot (The effect of fertilizer formula on flower initiation, stalk length, vase live, diameter and flower production/plot ), Segunung, 2004
|
Formula pupuk (Fertilizer formula) |
Inisiasi bunga (Flower initiation) |
Panjang tangkai bunga (Flower stalk length) |
Lama kesegaran bunga (Vase live) |
Diameter bunga (Flower diameter) |
Produksi bunga/plot (Flower production/plot) |
|
|
Hari (Day) |
cm |
Hari (Day) |
cm |
|
|
P1 |
122 a |
54,93 a |
5 a |
7,24 a |
31,11 a |
|
P2 |
125 a |
55,89 a |
5 a |
7,30 a |
34,22 a |
|
P3 |
134 a |
57,13 a |
5 a |
7,38 a |
34,22 a |
|
P4 |
126 a |
56,29 a |
5 a |
7,23 a |
30,33 a |
Tabel 5 : Pengaruh formula pupuk terhadap nilai daya hantar listrik & pH tanah pada pengamatan sebelum pinching (The effect of fertilizer formula on EC and pH of soil before pinching), Segunung, 2004
|
Formula pupuk (Fertilizer formula) |
Daya hantar listrik (Electric conductivity) |
pH |
|
|
—d S/m— |
|
|
P1 |
4,09 a |
5,99 a |
|
P2 |
4,48 a |
5,79 a |
|
P3 |
1,58 b |
6,02 a |
|
P4 |
4,44 a |
5,89 a |
Daya hantar listrik yang lebih dikenal dengan Electric conductivity (EC) sering dijadikan indikator kesuburan tanah merupakan nilai yang menunjukkan keadaan banyak atau tidaknya ion – ion tersedia dalam media. Menurut Handreck & Black (1994) tanaman anyelir termasuk tanaman yang moderat toleran terhadap nilai daya hantar listrik. Handreck & Black mengklasifikasi toleransi tanaman terhadap nilai daya hantar listrik yaitu 1) Sangat sensitif (nilai daya hantar listrik tidak lebih dari 1,8 d S/m); 2) Sensitif (3 – 4 d S/m); 3) Moderate toleran ( 5 – 6 d S/m); 4) Toleran ( tidak lebih tinggi 8 d S/m) & 5); Sangat toleran ( tidak lebih tinggi dari 13 d S/m). Nilai daya hantar listrik dalam media tumbuh dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain komposisi pupuk dan jenis tanamannya.
Daya hantar listrik media pada formula P3 1,58 dS/m menurut Jim (1996) termasuk kelas rendah. Sedangkan formula P1, P2 & P4 termasuk kelas tinggi. Klasifikasi nilai daya hantar listrik menurut Jim (1996) adalah rendah dengan nilai daya hantar listrik <2 dS/m, sedang dengan nilai daya hantar listrik 2 – 4 dS/m & tinggi dengan nilai daya hantar listrik > 4 dS/m. Dengan tingginya nilai daya hantar listrik dari formula P1, P2 & P4 untuk sementara tidak dipupuk sampai EC media turun menjadi 1-1,5 dS/m, hal ini untuk menjaga effektivitas penyerapan hara.Bilama nilai EC berkisar 1-1,5 dS/m tanaman dipupuk kembali. Whealy, (1992) mengemukakan bahwa level garam terlarut tinggi akan menurunkan hasil, bobot bunga segar dan rata – rata grade bunga, level garam terlarut optimum 2,5 millimho/cm.
Pertumbuhan jumlah tunas, inisiasi bunga, panjang tangkai bunga, lama kesegaran bunga, diameter bunga dan produksi bunga/plot yang diketahui tidak berbeda nyata, maka apabila dikaitkan dengan susunan hara dan nilai rupiah, maka formula pupuk P3 adalah mempunyai susunan hara yang paling sederhana, termurah dan nilai EC rendah sehingga dengan pemberian yang berkesinambungan memberikan lingkungan tumbuh yang sama dengan P1, P2 & P4. Reid (2002) mengemukakan bahwa larutan pupuk untuk tanaman anyelir cukup dengan ammonium nitrat , kalium sulfat dan magnesium sulfat, dengan formula N 7%, P2 05 7% dan K2 0 10% (Garden Direct, 2007)
Formula pupuk P3 dalam percobaan ini diduga sudah mencukupi untuk pertumbuhan tanaman bunga potong anyelir. Nilai nitrat optimal media antara 25 – 40 ppm. Selama kondisi sinar rendah N dalam bentuk nitrate lebih baik daripada ammoniak, diberikan untuk kesehatan & batang lebih kuat.Tetapi kelebihan nitrogen menyebabkan batang anyelir lemah. Level kalium optimal dalam media untuk anyelir antara 25 – 40 ppm. Level kalium rendah menurunkan hasil, grade, panjang tangkai bunga dan kesegaran. Kekurangan phospor menurunkan pertumbuhan & menyebabkan tanaman kerdil. Level phospor optimal adalah 5 – 10 ppm dan dicapai dengan penambahan superphosphate atau TSP. Pupuk ini ditambahkan & dicampur dalam tanah sebelum pengapuran untuk optimasi ketersediaan phosphor. Level kalsium optimal dalam media adalah 150 – 200 ppm. Level boron kurang dari optimal (kurang dari 20 – 25 ppm) menyebabkan pemendekan internodia dan tunas bunga terganggu.
Analisis data pada Tabel 5 menunjukkan bahwa Formula pemberian pupuk maupun kultivar tidak berpengaruh nyata terhadap nilai pH media yaitu berkisar antara 5,78 – 6,08. pH semua media dalam percobaan ini masih lebih rendah dibandingkan yang dikemukan oleh Reid, (2000) bahwa pH media untuk tanaman anyelir berkisar antara 6,5 sampai 7,5.
Pengaruh Kultivar Terhadap perumbuhan anyelir
Tabel 6 : Pengaruh kultivar terhadap tinggi tanaman anyelir (The effect of cultivar on plant height of carnation), Segunung, 2004
|
Kultivar (Cultivar) |
Tinggi tanaman pada minggu ke (Plant height at weeks….
|
||||
|
8 |
10 |
12 |
14 |
16 |
|
|
|
cm |
||||
|
Ragio de Sole |
22,96 x |
29,41 x |
44,33 x |
55,56 x |
68,68 x |
|
Yellow Liberty |
16,51 y |
19,29 y |
25,83 y |
32,59 y |
42,24 y |
|
Lokal |
11,91 z |
17,63 y |
24,11 y |
29,05 y |
34,08 z |
Analisis data pada tabel 6, 7 dan tabel 8 menunjukkan bahwa kultivar berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah tunas, inisiasi bunga, panjang tangkai bunga, lama kesegaran bunga, diameter bunga dan produksi bunga.
Pertumbuhan kultivar Ragio de Sole dari awal pengamatan minggu ke-8 sampai dengan pengamatan minggu 16 adalah tertinggi yaitu 68,68 cm pada minggu ke-16, diikuti oleh Yellow liberty dan terrendah kultivar lokal. Hal ini diduga disebabkan oleh pertumbuhan batang dari kultivar Ragio de Sole lebih tegak dibandingkan kultivar lokal yang pertumbuhan batangnya agak menyamping dan cenderung rebah.
Tabel 7 : Pengaruh kultivar terhadap jumlah tunas anyelir (The effect of cultivar on bud numbers of carnation), Segunung, 2004
|
Kultivar (Cultivar) |
Jumlah tunas pada minggu ke (Bud number at weeks…. |
|||||
|
8 |
10 |
12 |
14 |
16 |
18 |
|
|
Ragio de Sole |
3,12 b |
3,63 b |
3,63 b |
3,37 c |
3,37 c |
3,40 c |
|
Yellow Liberty |
4,15 a |
5,05 a |
5,05 a |
4,80 b |
4,80 b |
4,81 b |
|
Lokal |
2,35 c |
4,87 a |
4,87 a |
5,43 a |
5,43 a |
5,30 a |
Kultivar Yellow Liberty menghasilkan tunas terbanyak yaitu 4,15 tunas pada pengamatan minggu ke-8 diikuti oleh Ragio de Sole & lokal (merah fanta), masing – masing 3,12 & 2,35 tunas). Namun pada pengamatan minggu ke-18 jumlah tunas tertinggi adalah kultivar lokal yaitu 5,30 tunas selanjutnya diikuti oleh Yellow Liberty yaitu 4,81 tunas & Ragio de Sole 3,40 tunas. Dari pengamatan kondisi pertanaman di lapangan menunjukkan bahwa kultivar lokal lambat panen bunganya dibandingkan Yellow liberty dan Ragio de Sole. Kultivar Yellow liberty dan Ragio de Sole jumlah tunas mencapai nilai tertinggi pada minggu ke-12, sesudah minggu ke-12 jumlah tunas menurun. Sedangkan kultivar lokal nilai tertinggi jumlah tunas pada pengamatan minggu ke-14 sampai 16, sesudahnya jumlah tunasnya menurun.. Hal ini diduga hasil fotosintesa untuk kultivar lokal lebih untuk kearah pertumbuhan vegetatif yaitu terbentuknya tunas lebih banyak sehingga fase pertumbuhan generatifnya lebih lama dibandingkan dua kultivar yang lain. Variasi yang terjadi pada jumlah tunas yang dihasilkan ini merupakan akibat dari adanya pengaruh dari sifat masing – masing kultivar yang dicoba sehingga menghasilkan tunas yang berbeda, faktor genetik yang berbeda beradaptasi dengan lingkungannya, menghasilkan penampilan fenotifik yang berbeda. Berdasarkan karakteristik tanaman Raggio de Sole memiliki tunas berkisar antara 3-4 tunas/tanaman, Yellow liberty 4-5 tunas/tanaman dan Lokal pink 4-6 tunas/tanaman.
Inisiasi bunga merupakan fase generatif tanaman yang ditandai dengan munculnya primordia bunga. Yellow Liberty merupakan kultivar anyelir yang paling awal membentuk primorida bunga yaitu 110 hari selanjutnya diikuti oleh Raggio de Sole dan inisiasi bunga yang paling akhir adalah kultivar lokal yaitu masing – masing 120 hari dan 151 hari.
Tabel 8 : Pengaruh kultivar terhadap waktu inisiasi bunga, panjang tangkai bunga, lama kesegaran bunga, diameter bunga dan produksi bunga (The effect of cultivar on flower initiation, flower stalk length, vaselife, flower diameter, and flower production), Segunung, 2004
|
Kultivar (Cultivar) |
Inisiasi bunga (Flower initiation) Hari(Day) |
Panjang tangkai bunga (Flower stalk length) cm |
Lama kesegaran bunga (Vase life) Hari(Day) |
Diameter bunga (Flower diameter) cm |
Produksi bunga (Flower production) Tangkai (Stalk) |
|
Ragio de Sole |
120 b |
63,20 a |
6 a |
7,57 a |
30,33 xy |
|
Yellow Liberty |
110 c |
50,86 c |
5 b |
7,25 b |
39,67 x |
|
Lokal |
151 a |
54,12 b |
5 b |
7,05 c |
28,00 y |
Kualitas bunga anyelir yang diamati meliputi panjang tangkai bunga, diameter bunga & lama kesegaran bunga. Kultivar Raggio de Sole menghasilkan bunga dengan kualitas terbaik yaitu diameter bunga 7,57 cm, panjang tangkai bunga 63,20 cm & lama kesegaran bunga 6 hari. Kultivar Yellow Liberty menghasilkan bunga dengan diameter 7,25 cm, panjang tangkai 50,86 cm & lama kesegaran bunga 5 hari. Kultivar lokal menghasilkan bunga dengan diameter 7,05 cm, panjang tangkai 54,12 cm dan lama kesegaran bunga 5 hari. Berdasarkan panjang tangkai bunga menurut Harjoko (1999) Raggio de Sole termasuk kelas 1 yaitu panjang minimum 60 cm, sedangkan Yellow Liberty dan lokal termasuk kelas 2 yaitu panjang tangkai minimum 50 cm. Selanjutnya The Society of American Florist membagi klasifikasi berdasarkan diameter bunga minimum untuk bunga anyelir adalah fancy 3 inchi (7,50 cm) dan standard 6,875 inchi (6,875 cm) dengan demikian kultivar Raggio de Sole termasuk kelas fancy sedangkan Yellow Liberty dan lokal termasuk kelas standar (Reid & Lukaszewski, 1988)
Tabel 9 : Nilai rupiah pupuk yang digunakan selama pertumbuhan tanaman (Cost of fertilizers applied during plant growth), 2004
|
Formula pupuk (Fertilizer formula) |
Nilai rupiah pupuk/plot |
|
P1 |
Rp 2065,- |
|
P2 |
Rp 2685,- |
|
P3 |
Rp 1674,- |
|
P4 |
Rp 2675,- |
KESIMPULAN
Formula pupuk P3 yaitu pupuk organik 3,4 – 4,8 kg/ m2, pupuk susulan terdiri dari urea 2 g, ZA 2 g, TSP 0,1 g & KNO3 1 g dilarutkan dalam satu liter air untuk 5 tanaman dan diberikan setiap minggu menghasilkan pertumbuhan jumlah tunas, inisiasi bunga, panjang tangkai bunga, lama kesegaran bunga, diameter bunga dan produksi bunga/plot yang sama dengan P1, P2 & P4 mempunyai susunan hara yang paling sederhana dan termurah.
Kultivar berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah tunas, inisiasi bunga, panjang tangkai bunga, lama kesegaran bunga, diameter bunga dan produksi bunga. Produksi bunga tertinggi adalah kultivar Yellow Liberty selanjutnya diikuti oleh Ragio de Sole dan terrendah lokal
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2002. The Criterion of Split Application According to Absorption of_www.nhri.go.kr/manage/annual/files/e2002_3_54.htm-12k-Cached-Similar pages. 13 Juli 2007.
Bank Sentral Republik Indonesia. 2007. Production cut flower. www.bi.go.id/sipuk/lm/eng/cut_flower/produksi.htm-u/k 2 Maret 2004 Jam 13.30).
Besemer, S.T.1980. Carnation. In Introduction to Floriculture (edited by) Roy A. Larson. Second Edition. Academic Press, Inc.San Diego, California 92101. 49 – 79.
Dwiatmini, K., D. Herlina dan S. Wuryaningsih. 1994. Inventarisasi dan karakterisasi beberapa jenis bunga potong komersial di pasaran bunga Cipanas, Lembang-Bandung dan Jakarta. Bul. Penel. Tan. Hias. 2 (1) : 7 – 18.
Garden Direct. 2007. Fertilizer for Specific Plants : A recent introduction to our retail range this soluble fertilizer has many … Exhibition Carnation Fertilizer. Use in place of liquid feed for all types of….www.gardendirect.co.uk/prodtype.asp? 14 Juli 2007 Jam 18.15.
Handreck, K.A & N.D. Black. 1994. Growing media for ornamental plants and turf. University of South Wales Press. 448 p.
Hardjoko, B. 1999. Anyelir. Tuntunan membangun agribisnis. Seri praktek Ciputri Hijau. Edisi I. Jakarta , PT Elex Media Komputindo : 274 – 282.
Jim, C.Y. 1996. Edaphic properties and horticultural applications of some common growing media. Commun. Soil. Sci. Plant. Anal.27(9&10):2049–2064.
Luqman, T. 1992. Anyelir bunga dewa berpeluang pasar internasional. Suara Karya, 13 Mei 1992 hal. VII.
Mantrova, E. 1977. Peculiarities of nutrition and of metabolism of greenhouse carnation. Acta Horticulturae 71 : 39 – 44.
Reid,A. 2000. Standard and spray carnations [Western Australia]. Farmnote 56/2000. 8 pages
Sosromidjojo, B.H. 1993. Budidaya anyelir secara intensif. Suara Karya, 6 Januari hal. VII
Tony, LL 1991. Budidaya anyelir usaha yang prospektif : Indonesia masih mengimpor, Jepang masih memerlukan. Pikiran Rakyat, 4 Mei Hal. X
Watanabe, K, K. Ogawa, M. Yamanaka, A.Uda. 2005. Application of drip fertilization on nutrient uptake for four weeks of carnation to large yield and environmental preservation. Japanese Journal of Soil Science and Plant Nutrition, 2005 (Vol. 76) (No. 1) 63-67
Whealy, C.A. 1992. Carnations. In Introduction to Floriculture (edited by) Roy A. Larson. Second Edition. Academic Press, Inc.San Diego, California 92101. 43 – 65.
SUMBER : Wuryaningsih, S., dan Suhardi. 2007.Pemupukan Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Kultivar Anyelir. J. Hort. Edisi Khusus N0. 2 : 176 – 182.

