Media tanam termasuk salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam budidaya anggrek. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh berbagai bahan media tumbuh terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif anggrek Dendrobium. Percobaan dilaksanakan di rumah sere Kebun Percobaan Tanaman Hias Pasarminggu, Jakarta, dari bulan Mei 1998 hingga Maret 1999. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terpisah dengan 2 faktor dan 2 ulangan. Sebagai petak utama adalah Kultivar ( V ), terdiri dari Dendrobium Bloemen White ( V1 ) dan Dendrobium Jayakarta ( V2 ). Anak petak adalah media tanam ( M ), terdiri dari : Arang ( M1 ); Rockwool ( M2 ); Batu apung ( M3 ); Batu marus ( M4 ); Styrofoam ( M5 ); Sabut kelapa pot ( M6 ); Batu split ( M7 ); Campuran arang dan rockwool ( M8 ); Campuran arang dan batu apung ( M9 ); Campuran arang dan batu marus ( M10 ); Campuran arang dan styrofoam ( M11 ); Campuran arang dan sabut kelapa ( M12 ) dan Campuran arang dan batu split ( M13 ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sabut kelapa pot; media campuran arang dan sabut kelapa; media campuran arang dan batu marus memberikan hasil yang lebih baik pada pertumbuhan anggrek kultivar Dendrobium Jayakarta dibanding media lainnya. Jenis media rockwool, batu apung, batu marus dan batu split dapat digunakan sebagai media tanam anggrek, namun perlu dicampur dengan arang.
Kata Kunci : Dendrobium; Arang; Batu Apung; Batu Marus; Batu Split; Rockwool; Styrofoam; Sabut Kelapa; Pertumbuhan
ABSTRACT. Ginting, B., W. Prasetio, and T. Sutater. 2004. Growing media is one of the essential factors in orchid cultivation. The experiment was conducted at shading house of Research Garden Ornamental Plant, Jakarta, from May 1998 to March 1999. Split plot design was used as main plot contained of two cultivars there were, Dendrobium Bloemen White ( V1 ) and Dendrobium Jayakarta ( V2 ), while as sub plot was medium. There were 13 kinds of media tested i.e. charcoal ( M1 ); rockwool ( M2 ); pumice ( M3 ); hematite ( M4 ); styrofoam ( M5 ); coconut husk pot ( M6 ); crushed stone ( M7); mixed charcoal and rockwool ( M8 ); mixed charcoal and pumice ( M9 ); mixed charcoal and hematite ( M10 ); mixed charcoal and styrofoam ( M11 ); mixed charcoal and coconut husk ( M12 ); and mixed charcoal and crushed stone ( M13 ). The result showed that coconut husk pot and mixed charcoal and hematite media better than the others in orchid growth of Dendrobium Jayakarta, while rockwool, pumice, hematite and crushed stone could be used as growing media of orchids, except of styrofoam should be mixed with charcoal.
Keywords : Dendrobium; Charcoal; Pumice; Hematite; Crushed Stone; Rockwool; Styrofoam; Coconut Husk; Growth.
Berbagai usaha budidaya dilakukan untuk meningkatkan produktivitas anggrek , namun demikian produktivitas anggrek masih sangat rendah terutama anggrek Dendrobium yang berkisar 2,1 – 3,5 tangkai / tanaman / tahun (Anonim, 1993). Ada beberapa faktor yang menjadi kendala dalam produksi bunga anggrek di antaranya adalah tingginya biaya produksi dan teknik budidaya tanaman yang belum tepat sehingga mengakibatkan rendahnya kualitas bunga. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan penelitian budidaya tanaman anggrek yang memacu pertumbuhan dan pembungaan.
Pertumbuhan tanaman anggrek baik vegetatif maupun generatif tidak hanya ditentukan oleh faktor genetik, tetapi sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti cahaya, suhu, kelembaban, kadar O2 dan media tumbuh. Media tumbuh merupakan salah satu syarat penting yang perlu diperhatikan dalam budidaya anggrek, karena media berfungsi sebagai tempat berpijaknya tanaman, mempertahankan kelembaban dan tempat penyimpanan hara serta air yang diperlukan (Batchelor, 1981).
Putri (1998) melaporkan pada tanaman hias telah berkembang penggunaan media tanam anorganik seperti perlit, pasir, batu apung, dan zeolit. Media tumbuh untuk Dendrobium pada umumnya adalah media organik seperti arang dan pakis, mengingat populasi tumbuhan kayu semakin berkurang dan adanya penebangan hutan secara liar, maka dalam jangka panjang ketersediaan arang bakar tidak akan terjamin. Untuk mengatasi masalah tersebut di atas, saat ini banyak limbah hasil pertanian yang belum dimanfaatkan secara luas seperti sabut kelapa. Menurut Herath (1983), serat sabut kelapa memiliki sifat fisik dan kimia yang cukup baik bila diberi perlakuan yang memadai. Kebaikan utama dari serat sabut kelapa ini adalah dapat menyerap air sampai 7-8 kali beratnya dan mempunyai ukuran pori yang seragam (Kataren dan Djatmiko, 1981)
Menurut Handreck dan Black (1994) bahan media tanam pot dapat digunakan baik organik seperti serbuk gergaji kayu, “peatmoss” tumbuhan rawa, sekam padi, bagas tebu, serbuk dan serat sabut kelapa, kulit kacang, kompos, campuran kompos dan pasir, serat pakis ; maupun anorganik seperti lignite, pasir, batu kerikil, perlit, vermiculite, styrofoam, scoria atau serbuk batuan vulkanik keras, batu apung, rockwool, dan lain-lain limbah industri. Rockwool merupakan produk industri sehingga memiliki bentuk sangat seragam, steril, porous, dan mempunyai nisbah air sekitar 30% (Barb dan Thomas, 1990). Batu split dan batu apung potensial untuk dikembangkan sebagai media tanam karena bahan tersebut dapat digunakan berkali-kali dan tidak mudah rusak (Rentoul, 1989).
Penggunaan macam-macam media yang berasal dari batu-batuan, rockwool, styrofoam, maupun limbah pertanian seperti sabut kelapa diduga berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman anggrek yang diteliti.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh berbagai bahan media tumbuh terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman anggrek Dendrobium.
BAHAN DAN METODE
Percobaan dilakukan di rumah sere Balai Penelitian Tanaman Hias Pasarminggu, Jakarta yang terletak pada ketinggian ± 50 m d.p.l., dari bulan Mei 1998 sampai dengan Maret 1999.
Percobaan mencakup dua faktor yaitu bahan media (M) dan kultivar (V). Bahan media terdiri atas arang sebagai kontrol (M1), Rockwool (M2), batu apung (M3), batu marus (M4), Styrofoam (M5), sabut kelapa pot (M6), batu split (M7), campuran arang dan rockwool (M8), campuran arang dan batu apung (M9), campuran arang dan batu marus (M10), campuran arang dan styrofoam (M11) arang dan sabut kelapa (M12), campuran arang dan batu split (M13). Sedangkan kultivar yang digunakan adalah Dendrobium Bloemen White (V1) dan Dendrobium Jayakarta (V2).
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terpisah dengan petak utama kultivar dan anak petak adalah media tanam. Tiap satuan percobaan terdiri atas 15 tanaman, dengan jumlah kombinasi perlakuan sebanyak 26 buah dan jumlah ulangan 2 buah maka terdapat 52 plot percobaan sehingga diperlukan 780 tanaman.
Dalam pelaksanaannya bibit ditanam secara individu pada tiap-tiap pot tanah berdiameter 12 cm. Sebelum media ditempatkan dalam pot, terlebih dahulu media direndam dalam larutan pestisida dengan konsentrasi 2 gr/l selama 24 jam. Pada dasar pot sebelumnya diisi pecahan batu bata merah yang berfungsi untuk aerasi dan drainase.
Dalam pemeliharaan tanaman dilakukan penyiraman pagi dan sore hari dengan alat pengatur otomatis. Pemupukan dilakukan dengan pupuk Kristalon atau Hyponex dengan frekuensi pemupukan 2 x 1 minggu pada pagi hari dengan dosis 2 gr/l. Penyemprotan pestisida dilakukan 2 minggu sekali dengan menggunakan fungisida Dithane M-45 dan insektisida Tamaron berdasarkan dosis rekomendasi.
Cara Pembuatan Sabut Kelapa Pot Siap Pakai
Potongan – potongan sabut kelapa dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105oC selama 1 x 24 jam, sabut kelapa dipilih yang ukurannya seragam, kemudian dibentuk menyerupai buah kelapa kosong dan ke dalamnya diisi potongan sabut kelapa yang berukuran kecil. Sabut kelapa tersebut kemudian diletakkan pada alat pengepres. Setelah dipres lalu di bagian tengah diikat dengan kawat, kemudian bagian ujung dan pangkalnya dipotong merata dengan maksud agar dapat diletakkan di atas rak pengamatan. Selanjutnya sabut kelapa pot direndam dalam larutan kapur dengan konsentrasi 5-10 cc/l air selama 1 x 24 jam. Akhirnya sabut kelapa pot direndam lagi di dalam larutan pestisida selama 1 x 24 jam dan siap untuk digunakan.
Peubah yang diamati :
Pertumbuhan Vegetatif (tahun pertama)
- Tinggi tanaman
- Panjang daun
- Lebar daun
- Jumlah daun
Pertumbuhan generatif (tahun kedua)
- Waktu terbentuknya tunas bunga
- Jumlah tangkai bunga
- Jumlah kuntum bunga / tangkai
- Panjang tangkai bunga
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pertumbuhan Vegetatif Tanaman
Hasil pengamatan percobaan pada fase vegetatif tidak terjadi interaksi (yang nyata) antara faktor varietas dan media tanam terhadap tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun dan jumlah daun. Setiap faktor perlakuan memberikan pengaruh terhadap peubah pertumbuhan yang diamati. Oleh karenanya interpretasi statistik dilakukan per faktor perlakuan.
Tabel 1. Pengaruh media tumbuh dan Jenis Kultivar Dendrobium terhadap rata-rata Tinggi tanaman, Panjang daun, Lebar daun dan Jumlah daun 6 bulan setelah tanam ( The influence of growing media and Cultivars of Dendrobium on Plant height, Leat length, Leaf Width and Leaf number six month after planting) .
|
Perlakuan (Treatment) |
Tinggi Tanaman (Plant Heght) (cm) *) |
Panjang daun (Leaf Length) (cm) *) |
Lebar daun (Leaf Width) (cm) *) |
Jumlah Daun (Leaf Number) *) |
Kultivar (Cultivars) |
|
|
|
|
|
V1=D. Bloemen White |
10.75 b |
5,92 b |
1,67 b |
2,28 b |
|
V2=D. Jayakarta |
20,03 a |
8,22 a |
2,91 a |
2,66 a |
|
|
|
|
|
|
Media |
|
|
|
|
|
1. Arang (M1) |
15,80 a |
8,00 a |
2,42 ab |
2,34 a |
|
2. Rockwool (M2) |
15,22 a |
6,99 a |
2,23 ab |
2,35 a |
|
3. Batu Apung (M3) |
15,12 a |
6,68 a |
2,31 ab |
1,45 a |
|
4. Batu Marus (M4) |
16,90 a |
8,10 a |
2,30 ab |
2,40 a |
|
5. Styrofoam (M5) |
12,31 a |
5,45 a |
1,96 b |
2,55 a |
|
6. Sabut kelapa pot (M6) |
17,87 a |
8,19 a |
2,46 a |
2,35 a |
|
7. Batu Split (M7) |
13,55 a |
6,55 a |
2,13 ab |
2,70 a |
|
8. Arang+Rockwool (M8) |
16,58 a |
6,10 a |
2,35 ab |
2,55 a |
|
9. Arang+B. apung (M9) |
16.09 a |
7,21 a |
2,32 ab |
2,50 a |
|
10.Arang+B. Marus (M10) |
17,08 a |
8,31 a |
2,47 a |
2,40 a |
|
11.Arang+Styrofoam (M11) |
14,50 a |
6,78 a |
2,31 ab |
2,35 a |
|
12. Arang+S.kelapa (M12) |
14,95 a |
6,77 a |
2,34 ab |
2,65 a |
|
13. arang+B.split (M13) |
14,10 a |
6,76 a |
2,19 ab |
2,60 a |
*) Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Tuckey 5%. (Number of followed by the same column are not significantly different at 5% Tuckey Test).
Tinggi Tanaman
Tinggi tanaman yang berkisar antara 12,31 - 17,87 cm tidak dipengaruhi oleh jenis media. Sedangkan penggunaan 2 jenis varietas nyata pengaruhnya terhadap tinggi tanaman. Varietas Dendrobium Jayakarta menghasilkan tanaman yang tertinggi (20,03 cm) dan berbeda nyata dengan Dendrobium Bloemen White (10,75 cm). Adanya perbedaan nyata di antara 2 varietas disebabkan setiap anggrek walaupun dalam satu genera yang sama akan mempunyai sifat berbeda dalam species atau kultivarnya sehingga memberikan respon yang berbeda terhadap lingkungan tumbuhnya (Widiastoety, 1977).
Panjang Daun
Panjang daun yang berkisar antara 6,103 – 8,315 cm tidak dipengaruhi oleh jenis media. Sedangkan varietas berpengaruh nyata terhadap panjang daun. Dendrobium Jayakarta menghasilkan daun yang terpanjang (8,221 cm) dan berbeda nyata dengan Dendrobium Bloemen White (5,92 cm).
Lebar Daun
Media tanam nyata pengaruhnya terhadap lebar daun. Campuran arang dan batu marus menghasilkan daun yang terlebar (2,470 cm) diikuti oleh media sabut kelapa pot (2,470 cm) yang tidak berbeda nyata dengan media-media lainnya seperti arang rockwool, batu apung, batu marus, dan batu split. Sedangkan anggrek yang ditanam pada media styrofoam menghasilkan lebar daun terkecil (1,97 cm). Hal ini menunjukkan bahwa anggrek yang ditanam pada media styrofoam kurang terpenuhi kebutuhan hara dan air yang dibutuhkan selama pertumbuhan. Menurut Sutiyoso (1996) styrofoam adalah bahan yang netral tetapi tidak memiliki nilai hara sehingga kebutuhan hara sangat tergantung pada aplikasi NPK. Varietas memberikan pengaruh nyata terhadap lebar daun. Dendrobium Jayakarta menghasilkan daun yang terlebar (2,91 cm) yang berbeda nyata dengan Dendrobium Bloemen White (1,68 cm).
Jumlah Daun
Media tanam tidak memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah daun yang berkisar antara 2,3 – 2,7 daun. Sedangkan varietas nyata pengaruhnya terhadap jumlah daun. Dendrobium Jayakarta memiliki rata-rata 2,6 daun yang berbeda nyata dengan Dendrobium Bloemen White (2,3 daun).
2. Pertumbuhan Generatif Tanaman
Hasil pengamatan pertumbuhan generatif tanaman disajikan pada tabel 2. Hasil uji statistik memperlihatkan tidak terjadi interaksi yang nyata antar faktor varietas dan media tanam. Namun setiap faktor perlakuan memberikan pengaruh terhadap peubah yang diamati yaitu waktu terbentuknya tunas bunga, jumlah tangkai bunga per pot, jumlah kuntum bunga per tangkai dan panjang tangkai bunga.
Tabel 2. Pengaruh media Tumbuh dan Varietas terhadap waktu Terbentuknya Tunas Bunga, Jumlah Tangkai Bunga per pot, Jumlah Kuntum Bunga per tangkai dan Panjang Tangkai Bunga. (The Influence of Growing Media and Dendrobium Cultivars on Time of flower bud initiation, Number of Flower Stalk per pot, Number of flower per stalk, and Length of flower stalk).
|
Perlakuan |
Waktu Terbentuknya |
Jumlah Tangkai |
Jumlah Kuntum Bunga |
Panjang Tangkai |
|
(Treatment) |
Tunas Bunga (hari) *) |
Bunga Per pot *) |
Per Tangkai *) |
Bunga (cm) *) |
|
Kultivar (Cultivars) |
|
|
|
|
|
V1=D. Bloemen White |
420,1 a |
9,54 a |
7,20 a |
30,44 a |
|
V2=D. Jayakarta |
388,9 a |
19,01 a |
8,21 a |
29,71 a |
Media |
|
|
|
|
|
1. Arang (M1) |
393,7 ab |
16,50 abc |
8,04 a |
33,61 ab |
|
2. Rockwool (M2) |
403,8 ab |
15,00 abc |
11,81 a |
28,50 bc |
|
3. Batu Apung (M3) |
408,1 ab |
12,50 bc |
6,67 a |
30,39 abc |
|
4. Batu Marus (M4) |
399,6 ab |
12,50 bc |
6,29 a |
26,23 bc |
|
5. Styrofoam (M5) |
436,3 ab |
6,00 c |
6,86 a |
23,31 c |
|
6. Sabut kelapa pot (M6) |
401,7 ab |
25,00 a |
9,50 a |
38,95 a |
|
7. Batu Split (M7) |
447,1 a |
6,25 c |
7,88 a |
28,82 bc |
|
8. Arang+Rockwool (M8) |
403,0 ab |
16,50 abc |
7,77 a |
31,34 abc |
|
9. Arang+B. apung (M9) |
392,7 ab |
16,25 abc |
7,59 a |
31,94 abc |
|
10.Arang+B. Marus (M10) |
380,8 b |
14,00 abc |
7,57 a |
30,24 abc |
|
11.Arang+Styrofoam (M11) |
396,4 ab |
13,75 abc |
6,88 a |
28,63 bc |
|
12. Arang+S.kelapa (M12) |
380,6 b |
19,00 ab |
8,13 a |
31,54 abc |
|
13. arang+B.split (M13) |
415,1 ab |
12,50 bc |
7,17 a |
27,50 bc |
*) Lihat Tabel 1. (See Table 1.)
Waktu Terbentuknya Tunas Bunga
Waktu terbentuknya tunas bunga yang berkisar 388,9 – 420,1 hari tidak dipengaruhi varietas. Sedangkan media tanam nyata pengaruhnya terhadap waktu terbentuknya tunas bunga. Media yang terdiri dari campuran arang dan sabut kelapa (M12) mempercepat terbentuknya tunas bunga (380,6 hari) diikuti oleh campuran media arang dan batu marus (380,8 hari) yang tidak berbeda nyata dengan media arang, rockwool, batu apung, batu marus, styrofoam dan sabut kelapa pot, namun sangat berbeda nyata dengan media batu split yang membutuhkan waktu yang lebih lama dalam menghasilkan tunas bunga (447 hari). Hal ini menunjukkan bahwa tanaman anggrek yang ditanam pada media campuran arang dan sabut kelapa dan media campuran arang dan batu marus memiliki potensi tumbuh lebih baik sehingga dapat menyerap unsur hara yang lebih baik dibandingkan dengan batu split. Satsijati (1991) melaporkan bahwa campuran dua macam bahan dapat memperbaiki kekurangan pada masing-masing sifat bahan tersebut antara lain terhadap kecepatan pelapukan, tingkat terurainya hara tanaman dalam media dan kondisi kelembaban dalam media tumbuh.
Jumlah Tangkai Bunga per Pot
Jumlah tangkai bunga yang berkisar 9,54 – 19,01 tangkai per pot tidak dipengaruhi varietas. Media tanam nyata pengaruhnya terhadap jumlah tangkai bunga per pot. Media sabut kelapa pot menghasilkan tangkai bunga terbanyak yaitu 25 tangkai per pot. Sedangkan media styrofoam (M5) dan batu split (M8) menghasilkan jumlah tangkai bunga per pot terendah yaitu masing-masing 6 tangkai per pot.
Media sabut kelapa pot menghasilkan akar yang lebih banyak dan menembus media ke segala arah serta melingkar pada permukaan bagian dalam dinding pot sehingga kedudukan tanaman lebih kuat. Selain itu unsur hara yang terserap terutama N pada media sabut kelapa pot diduga lebih banyak dibanding pada media lain terutama styrofoam yang tidak memiliki unsur hara dan daya serap air. Wilfret (1980) melaporkan bahwa peranan N cukup besar karena kekurangan N dapat mengurangi produksi bunga dan jumlah kuntum bunga per tangkai.
Jumlah Kuntum Bunga per Tangkai
Jumlah kuntum bunga tidak dipengaruhi oleh varietas yang berkisar antara 7-8 kuntum per tangkai. Media tanam juga tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah kuntum bunga per tangkai yang berkisar antara 6-11 kuntum per tangkai.
Panjang Tangkai Bunga
Panjang tangkai bunga yang berkisar antara 29-30 cm tidak dipengaruhi oleh varietas. Media tanam berpengaruh nyata terhadap panjang tangkai bunga. Sabut kelapa pot menghasilkan tangkai bunga terpanjang (38,95 cm) yang tidak berbeda nyata dengan arang, batu apung, campuran arang dan rockwool, campuran arang dan batu apung, campuran arang dan batu marus, dan campuran arang dan sabut kelapa. Sedangkan anggrek yang ditanam pada media Styrofoam menghasilkan panjang tangkai bunga terendah (23,31 cm).
KESIMPULAN
1. Dari hasil penelitian berbagai macam media tumbuh yang digunakan ternyata media campuran arang dan sabut kelapa dan media campuran arang dan batu marus mempercepat waktu terbentuknya tunas bunga.
2. Media sabut kelapa pot cenderung menghasilkan jumlah tangkai bunga per pot dan jumlah kuntum bunga per tangkai lebih banyak dan tangkai bunga terpanjang (38,95 cm).
3. Jenis media rockwool, batu apung, batu marus dan batu split dapat dijadikan sebagai media tanam anggrek baik digunakan secara sendiri-sendiri maupun dicampur dengan arang. Sedangkan styrofoam penggunaannya sebagai media tanam anggrek akan lebih baik jika dicampur dengan arang.
PUSTAKA
1. Anonim, 1993. Produksi Pemasaran Anggrek di Wilayah DKI Jakarta. Makalah Temu Wicara dan Konsultasi Anggrek di Jakarta, 2 Pebruari 1993.
2. Agoes, S.D, 1994. Aneka Jenis Media Tanam dan Penggunaannya. Penebar Swadaya. Jakarta
3. Batchelor, P.S. 1981. Orchid Culture Watering. Amer. Orchid. Soc. Bull. 50
4. Barb and W. Thomas. 1990. Rockwool as growing medium. Proc. 13th World Orchid Conference : 135-139
5. Etherrington, J.R. 1976. Environment plant ecology. Wiley Eastern. Ltd. New Delhi. 147p
6. Handreck, K.A dan N.D. Black. 1994. Growing Media for Ornamental Plants and Turb. University of New South Wales/ Press. Randwick NSM, Australia 448h
7. Herath, W. 1991. Coir Dust as Growing Medium. 7th International Floriculture Symposium. Colombo, Srilanka
8. Kataren, S dan B. Djatmiko. 1981. Daya guna kelapa. Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik Pertanian, Institut Pertanian Bogor
9. Putri, U.K. 1998. Hidroponik Landa Indonesia. Trubus 29 (348) : 44
10. Rentoul, J.N. 1989. Growing Orchids. The Specialist Orchid Grower. Lethion Publishing Company. Melbourne. 208p
11. Satsijati. 1991. Pengaruh media tumbuh terhadap pertumbuhan bibit anggrek Dendrobium Youpphaduwan. Jurnal Hortikultura I (2) : 13 – 17
12. Sutiyoso, Y. 1996. Pengaruh media terhadap pertumbuhan dan pembungaan tanaman anggrek. Pengembangan agribisnis anggrek dalam era globalisasi. Perhimpunan Anggrek Indonesia hal 70-83.
13. Widiastoety, D. 1977. Budidaya Anggrek dalam Peningkatan Produktivitas dan Mutu Bunga Anggrek. Balai Penelitian Tanaman Hias. Puslitbanghort. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta. P. 23-43
14. Widiastoety, D dan Suwanda. 1989. Pengaruh berbagai macam media terhadap pertumbuhan anggrek Dendrobium Tay Swee Keng. Bull. Penel. Hort XVIII (3) : 54-59
15. Wilfret, G.J.1980. Gladiolus. In R.E. Larson (ed). Introduction to Floriculture. Acad. Press New York.
Sumber : Ginting B., W. Prasetio dan T. Sutater.2004 Media Tumbuh untuk Varietas Baru Anggrek Dendrobium Prosiding Seminar Nasional Florikultura, Bogor, 4-5 Agustus.65-70

Ass.Wr.Wb.,
penelitiannya bagus2 dapat memberikan informasi yang dapat dipertanggung jawabkan. semoga semakin banyak kerasi2 hasil penilitian yang dapat kami baca dan terapkan dalam aplikasi selanjutnya. trimakasih
Wss.