4.7 Perlindungan terhadap hama dan penyakit
Kondisi keragaan fisik tanaman dan bunga dapat terganggu dengan adanya organisme pengganggu tanaman (OPT) yang menyerang tanaman sehingga dapat menurunkan mutu pertumbuhan tanaman dan kerusakan fisik tanaman secara langsung. Organisme pengganggu tanaman ini juga sebagai penular penyakit (vektor) seperti virus.
4.7.1 Hama Tanaman
Hama penting yang sering menyerang dan mengakibatkan kerugian sigifikan pada pertanaman krisan adalah sebagai berikut :
1. Pengorok daun Liriomyza sp.
Ordo : Diptera
Famili : Agromyzidae
Liriomyza sp. bersifat polifag yang dapat menyerang lebih dari 100 spesies tanaman dari berbagai famili seperti Leguminosae, Cucurbitaceae, Solanaceae, Liliaceae, Compositae, dan Umbelliferrae. Di Indonesia, hama ini dilaporkan juga menyerang cabai, kentang, tomat, seledri, kacang merah, kubis, gambas, kapri, brokoli, lettuce, bawang daun, bayam, bawang merah, buncis dan beberapa jenis gulma misalnya bayam air.
Serangga dewasa (gambar 13 i) menusuk daun-daun muda dengan ovipositornya. Selain untuk makan (mengisap cairan) juga untuk meletakkan telur. Larva hidup dengan cara mengorok daun sehingga pada daun terjadi alur-alur bekas korokan yang berliku gambar 13 ii). Pada intensitas serangan tinggi bagian daun dan kadang-kadang seluruh tanaman terlihat putih dan populasi pupa dapat mencapai 40 pupa. Pada populasi tinggi beberapa lubang korokan menyatu dan menyebabkan daun menguning mirip gejala serangan cendawan Phytophthora infestans. Kerusakan tanaman tidak hanya disebabkan oleh kotoran larva, tetapi juga karena tusukan ovipositor serangga betina yang menyebabkan gejala bintik-bintik putih.
Hama ini menyerang mulai dari daun yang muda sampai daun tua dengan cara mengisap cairan tanaman yang ke luar dari bekas tusukan. Beberapa larva seringkali secara bersama-sama menyerang satu daun yang sama, sehingga daun layu sebelum waktunya dan mati.
Serangga dewasa (imago) berwarna coklat tua kehitaman, berukuran panjang 1,5 – 2 mm. Sayap transparan mengkilat dan rentang sayap mencapai 2,25 mm. Sayap terlipat di atas tubuhnya. Bentuk tubuh seperti lalat kacang (lebih kecil dan lebih ramping). Telur berwarna putih dan agak transparan dengan panjang 0,2 – 0,3 mm. Larva instar satu berwarna bening, setelah itu menjadi kuning kecoklatan dengan panjang 2,5 – 2 mm. Serangga betina dewasa meletakkan telur pada jaringan daun, sehari setelah kawin. Serangga betina dapat meletakkan telur sampai sekitar 300 butir. Telur menetas setelah 3 – 4 hari dan larva berada pada liang korok pada jaringan tanaman (di bawah kutikula dari permukaan atas daun) tersebut. Siklus hidupnya berlangsung sekitar 17 – 65 hari, tergantung suhu lingkungan. Pengendalian dapat dilakukan dengan sanitasi lingkungan pertanaman, memotong dan membuang daun yang terserang, aplikasi insektisida berbahan aktif kartap hidroklorida atau yang berefek serupa dan rotasi tanaman.
2. Thrips parvispinus Karny
Ordo : Thysanoptera
Famili : Thripidae
Hama ini bersifat polifag dengan tanaman inang utama yaitu cabai, bawang merah, bawang daun dan jenis bawang lainnya, dan tomat. Tanaman inang lain yaitu tembakau, kopi, ubi jalar, labu siam, bayam, kentang, kapas, tanaman dari famili Crusiferae, Crotalaria, kacang-kacangan, mawar, dan sedap malam.

Gambar 14. (i) Gejala serangan pada daun, (ii) bunga, dan (iii) larva serangga hama Thrips (Foto: Maaswinkel dan Sulyo).
Hama ini menyerang dengan cara mengisap cairan tanaman (daun muda/pucuk) dan tunas-tunas muda, sehingga sel-sel tanaman menjadi rusak dan mati. Gejala serangan paling banyak dijumpai pada permukaan bawah daun atau bunga (gambar 14). Kerusakan tanaman ini ditandai dengan adanya bercak-bercak putih atau keperak-perakan/kekuning-kuningan seperti perunggu terutama pada permukaan bawah daun. Gejala bercak keperak-perakan awalnya tampak dekat tulang daun menjalar ke tulang daun hingga seluruh permukaan daun menjadi putih. Daun kemudian menjadi coklat, mengeriting atau keriput dan akhirnya kering. Pada intensitas serangan yang tinggi, tepi daun berkerut, menggulung ke dalam dan timbul benjolan seperti tumor sehingga mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil dan bila daun tersebut dibuka, akan terdapat imago yang berkelompok. Tanaman yang merana tidak akan menghasilkan bunga yang prima. Hama ini juga bertindak sebagai vektor Tomato Spotted Wilt Virus (TSWV). Populasi dan serangan thrips biasanya tinggi pada musim kemarau dan menurun pada musim hujan.
Serangga dewasa (imago) berukuran sangat kecil, dengan panjang tubuh + 1 mm dan berwarna kuning pucat sampai coklat kehitaman. Imago yang sudah tua berwarna agak kehitaman, berbercak-bercak merah atau bergaris-garis. Imago thrips muda berwarna putih atau kekuning-kuningan. Serangga jantan tidak bersayap, sedangkan yang betina mempunyai dua pasang sayap yang halus dan tidak rata. Thrips berkembang biak secara partenogenesis. Umur stadium serangga dewasa dapat mencapai 20 hari. Telur thrips berbentuk oval atau seperti ginjal. Serangga betina dapat bertelur hingga 80 butir dan dapat menetas setelah 3 – 8 hari. Telur biasanya diletakkan pada daun bagian bawah atau di dalam jaringan tanaman secara terpencar.
Nimfa yang baru menetas berwarna keputihan/kekuningan. Nimfa instar pertama dan kedua aktif berada di permukaan daun sedangkan instar selanjutnya tidak aktif. Kemungkinan pada saat ini nimfa berada di permukaan tanah. Pupa yang terbungkus kokon terdapat di permukaan bawah daun dan di permukaan tanah di sekitar tanaman. Thrips muda yang keluar dari kokon biasanya belum dapat terbang tetapi sudah dapat meloncat. Perkembangan pupa menjadi thrips muda akan semakin meningkat pada kelembaban rendah dan suhu lingkungan yang hangat. Pengendalian hama ini, yaitu dengan cara mengatur waktu tanam, repellent dan insektisida berbahan aktif merkaptodimetur sesuai dosis anjuran.
3. Ulat Tanah Agrotis ipsilon Hufn
Ordo : Lepidoptera
Famili : Noctuidae
Hama ini selain menyerang tanaman krisan, juga menyerang tanaman tomat, jagung, padi, tembakau, tebu, bawang, kubis, dan kentang. Larva serangga ini aktif pada malam hari dan menyerang tanaman dengan cara menggigit atau memotong ujung batang tanaman muda, sehingga mengakibatkan tunas apikal atau batang tanaman terkulai dan layu. Daya serang ulat ini relatif besar sehingga dapat menyebabkan kerugian yang signifikan.
Imago serangga berupa ngengat dan tidak menyukai cahaya matahari langsung, sehingga sering banyak dijumpai bersembunyi di permukaan daun bagian bawah. Sayap depan berwarna dasar coklat keabu-abuan dengan bercak-bercak hitam. Pinggiran sayap depan berwarna putih. Warna dasar sayap belakang putih keemasan dengan pinggiran berenda putih. Panjang sayap depan berkisar 16 – 19 mm dan lebar 6 – 8 mm. Imago dapat bertahan hidup selama 20 hari.
Siklus hidup dari telur hingga serangga dewasa, rata-rata berlangsung 51 hari. Telur biasanya diletakkan secara terpisah atau berkelompok. Bentuk telur seperti kerucut terpancung dengan panjang garis tengah pada bagian dasarnya sekitar 0,5 mm. Serangga betina dapat meletakkan 1.430 – 2.775 butir telur selama masa hidupnya. Warna telur mula-mula putih lalu berubah menjadi kuning, kemudian merah disertai titik coklat kehitam-hitaman pada puncaknya. Menjelang menetas, warna telur berubah menjadi gelap agak kebiru-biruan. Stadium telur berlangsung 4 hari.

Gambar 15. Larva Agrotis dapat dilihat secara kasat mata dan dapat menyebabkan gangguan pada pertanaman krisan. (Foto: tatarastaomoy).
Larva yang baru menetas berwarna kuning kecoklat-coklatan dengan ukuran panjang berkisar antara 1 – 2 mm. Larva serangga (gambar 15) ini juga tidak menyukai cahaya matahari langsung dan bersembunyi di permukaan tanah kira-kira sedalam 5 – 10 cm atau dalam gumpalan tanah. Larva aktif pada malam hari dan menyerang tanaman dengan cara menggigit pangkal batang dan daun. Pengendalian dengan cara mekanis yaitu mencari dan mengumpulkan ulat pada senja hari dan memberikan pestisida berbahan aktif carbofuran pada areal pertanaman.
4. Tungau Merah Tetranychus sp.
Ordo : Acarina
Famili : Tetranychidae

Gambar 16. Tungau Tetranychus sp. dapat menyerang tanaman krisan dari muda hingga dewasa (Foto: handoko).
Hama ini bersifat polifag dan merupakan jenis yang paling umum di daerah tropis. Tanaman inang selain krisan antara lain singkong, kapas, hampir pada semua tanaman pada famili leguminoceae, jeruk, mawar, karet, jarak, pepaya, dadap, kacang-kacangan, tomat dan gulma terutama golongan dicotyledonae. Tungau sangat cepat berkembang biak dan dalam waktu singkat dapat menyebabkan kerusakan secara mendadak. Bagian tanaman yang diserang antara lain tangkai daun dan bunga.
Imago sering berada pada daun bagian bawah. Gejala serangannya tampak pada daun yang berbintik-bintik kemudian bergabung dan jaringan daun seluruhnya menjadi kuning akhirnya kemerah-merahan. Tungau tampak seperti bercak merah, melengkung pada permukaan bawah daun (gambar 16). Bila serangan berat daun layu dan gugur. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sanitasi lingkungan terutama terhadap gulma yang juga merupakan inang serangga ini dan atau dengan aplikasi akarisida berbahan aktif dikofol atau piridaben.
5. Ulat Grayak Spodoptera litura F.
Ordo : Lepidoptera
Famili : Noctuidae
Hama ini bersifat polifag, dengan tanaman inang utama cabai, kubis, padi, jagung, tomat, tebu, buncis, jeruk, tembakau, bawang merah, terung, kentang, kacang-kacangan, kangkung, bayam, pisang, dan gulma. Larva yang masih kecil merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas/transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Gejala serangan pada daun rusak tidak beraturan, bahkan kadang-kadang hama ini juga memakan tunas dan bunga. Pada serangan berat menyebabkan daun tanaman habis. Intensitas serangan tinggi biasanya terjadi pada musim kemarau. Larva yang sedang menyerang bunga dapat dilihat pada gambar 17.
Sayap imago serangga ini bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputih-putihan dengan bercak hitam. Imago dapat terbang sejauh 5 kilometer. Serangga betina dapat meletakkan 2000 – 3000 telur selama siklus hidupnya. Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun atau bagian tanaman lain (kadang-kadang tersusun 2 lapis), berwarna coklat kekuning-kuningan diletakkan berkelompok (masing-masing kelompok berisi 25 – 500 butir) dengan bentuk yang bermacam-macam. Kelompok telur tertutup bulu seperti beludru yang berasal dari bulu-bulu tubuh bagian ujung imago betina.

Gambar 17. Serangan ulat grayak (Spodoptera litura F) dapat menyebabkan kerusakan fisik tanaman yang signifikan (Foto : suhardi).
Warna larva bervariasi dan mempunyai kalung seperti bulan sabit berwarna hitam pada segmen abdomen yang ke-empat dan ke-sepuluh. Pada sisi lateral dan dorsal terdapat garis kuning. Ulat yang baru menetas berwarna hijau muda dengan bagian samping berwarna coklat tua atau hitam kecoklat-coklatan dan hidup berkelompok. Larva menyebar dan tidak aktif pada siang hari, bersembunyi dalam tanah (tempat yang lembab) dan menyerang tanaman pada malam hari. Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar.
Warna dan perilaku larva instar terakhir mirip ulat tanah, perbedaan hanya pada tanda bulan sabit, berwarna hijau gelap dengan garis punggung warna gelap memanjang. Pada umur 2 minggu panjang ulat dapat mencapai sekitar 5 cm. Larva berubah menjadi pupa tanpa kokon dalam tanah berwarna coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm. Siklus hidup berkisar antara 30 – 60 hari. Pengendalian dengan sanitasi lingkungan pertanaman terutama gulma yang juga merupakan inang hama ini dan dengan penggunaan insektisida berbahan aktif deltametrin, fipronil atau tiodikarb.
6. Siput Parmarion pupillaris Humb
Phyllum : Mollusca
Hewan ini juga bersifat polifag antara lain pada kol, sawi, tomat, kentang, tembakau, karet dan ubi jalar. Gejala serangan sering dijumpai pada tanaman yang masih muda. Siput biasanya menyerang daun dan membuat lubang-lubang tidak beraturan. Serangan ditandai dengan adanya bekas lendir sedikit mengkilat dan kotoran. Selain daun, siput juga dapat menyerang akar dan tunas anakan. Tanaman yang terserang menjadi rusak (terkoyak) atau bahkan dapat mengakibatkan kematian tanaman.
Siput dewasa dapat mencapai panjang tubuh sekitar 5 cm, dengan rumah siput yang kecil di bagian dorsal. Pengendalian dilakukan dengan cara mekanis yaitu mencari dan mengumpulkan siput pada areal pertanaman dan membunuhnya.
4.7.2. Penyakit Tanaman
Tanaman krisan mudah terserang penyakit bila kelembaban terlalu tinggi atau bila tanaman dalam kondisi stress/tidak sehat. Lingkungan yang lembab terjadi pada saat musim penghujan, atau karena kondisi lingkungan pertanaman rapat sehingga sirkulasi udara yang tidak berjalan lancar. Beberapa penyakit yang sering dijumpai pada tanaman krisan dapat disebabkan oleh bakteri, fungi, nematoda dan virus.
4.7.2.1. Bakteri
Lanas daun Pseudomonas

Gambar 18. Bercak/lanas hitam daun pada tanaman muda krisan akibat serangan P.cichorii (Foto : kbudiarto).
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Pseudomonas chicorii. Gejala penyakit ini berupa spot/bercak coklat kehitaman berair pada daun dan melebar hingga ke seluruh daun seperti yang disajikan pada gambar 18. Spot ini seolah-olah mempunyai inti dan perlahan-lahan terpisah seperti gelombang. Pada stadium serangan lebih lanjut, daun akan berwarna kecoklatan dan mengering. Bakteri ini menyerang dengan intensitas tinggi bilamana kelembaban lingkungan pertanaman tinggi seperti pada musim hujan. Bila serangan sudah parah, penyakit ini dapat mengakibatkan kematian tanaman. Penyakit ini sangat sulit dikendalikan bila sudah mulai menyerang. Penanganan kuratif penyakit ini belum diketahui sampai saat ini. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan menanam bahan tanaman bebas penyakit, penyiraman dengan air yang tidak mengandung bakteri ini dan tidak membasahi daun terlalu lama, serta sanitasi lingkungan. Bilamana memungkinkan juga menghindari/meminimalkan aktifitas yang beresiko melukai tanaman. Fungisida/ bakterisida yang mengandung tembaga seperti yang berbahan aktif Cu-hidroksida juga dapat digunakan untuk pencegahan terutama pada saat musim serangan hebat.
4.7.2.2 Fungi (jamur)
1. Karat Puccinia (Japanese white rust)
Penyakit ini disebabkan oleh dua macam cendawan yaitu Puccinia chrysanthemi Roze (karat hitam) dan P. horiana Henn (karat putih). Di daerah tropis seperti Indonesia, serangan karat putih lebih umum dijumpai daripada karat hitam. Gejala serangan karat putih adalah terdapatnya bintil-bintil (pustul) putih pada daun bagian bawah yang berisi telium (teliospora) cendawan atau terjadi lekukan-lekukan mendalam berwarna pucat pada permukaan daun bagian atas (gambar 19). Teliospora bersel dua dan berdinding tebal. Pada serangan lebih lanjut, penyakit ini dapat menghambat perkembangan bunga.
Pada karat hitam, teliospora bersel satu, bulat atau berbentuk ginjal, dengan dinding sel berjerawat berwarna coklat atau putih cerah. Kadang-kadang terdapat urediospora yang bersel dua, dianggap sebagai dua urediospora yang berlekatan. Penyakit ini berkembang baik pada kelembaban tinggi terutama dengan pertanaman yang rapat. Pengendalian dengan sanitasi lingkungan, aplikasi fungisida, penanaman varietas yang tahan/toleran dan perbaikan lingkungan fisik pertanaman terutama aerasi dan kelembaban lingkungan pertanaman dengan penjarangan tanaman atau menanam dengan kerapatan lebih renggang.
2. Kapang kelabu Botrytis cinerea Pers.
Cendawan ini mempunyai inang yang luas, seperti gladiol, anggrek, violces, begonia, lili, mawar, bunga kertas, dan gulma air. Spora berkecambah pada petal bunga, yang kemudian berkembang menjadi bercak kecil dan bundar dan membesar. Bila kelembaban pada lingkungan pertanaman tinggi (terutama pada musim hujan), intensitas serangan dapat meningkat dan menyebabkan busuk bunga. Gejala serangan cendawan Botrytis dapat dilihat pada gambar 20 berikut ini.

Gambar 20. Gejala serangan cendawan Botrytis pada (i) pertanaman dan (ii) bunga (Foto: Maaswinkel dan Sulyo).
Cendawan mempunyai konidiofor bercabang-cabang, bersekat, berwarna kelabu, dengan konidium lonjong atau hampir bulat, berukuran 12 – 13 x 9 – 10 μm. Spora cendawan dapat menyebar dengan perantaraan angin atau serangga. Cendawan dapat bertahan sebagai saprofit pada sisa-sisa tanaman sakit, dan penyakit biasanya hanya terjadi pada musim hujan pada kondisi yang sangat lembab. Pengendalian dilakukan dengan sanitasi lingkungan pertanaman dan penjarangan tanaman/bunga.
3. Bercak daun Septoria chrysanthemi Allesch, dan S. leucanthemi Sacc. et Speg.
Gejala serangan S. chrysanthemi berupa bercak-bercak hitam pada daun. Bercak berbentuk bulat dan berbatas tegas, sedangkan S. leucanthemi bercak-bercaknya berwarna coklat, berbentuk bulat berukuran besar hingga 3 cm dan mempunyai lingkaran-lingkaran yang jelas. Pada bercak yang disebabkan S. chrysanthemi terdapat badan buah cendawan (piknidium) yang mempunyai lebar 150 – 250 μm, dan berisi konidium berbentuk tabung, bersel 3 – 4, berukuran 50 – 80 x 2 – 3 μm. S. leucanthemi mempunyai konidium yang lebih besar, dengan ukuran 100 – 130 x 4 – 5 μm.
Penyakit akan berkembang bila intensitas cahaya kurang, kelembaban tinggi, jarak tanam terlalu rapat, dan pemberian pupuk nitrogen yang terlalu banyak. Penyakit ini jarang menyerang pada musim kemarau. Pengendalian dilakukan dengan pengaturan musim tanam dan memperbaiki lingkungan pertanaman.
4. Penyakit tepung Oidium chrysanthemi Rab.
Gejala serangan penyakit ini yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah. Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25 °C. Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya dapat berkecambah dalam udara dengan kelembaban nisbi rendah (50 – 75%).
5. Layu Fusarium oxysporum Schlecht. ex. Fr. dan Verticillium albo-atrum Reinke et Bert.
Jamur penyebab penyakit layu Fusarium mempunyai inang yang sangat luas seperti anggrek, kubis, caisin, petsai, cabai, pepaya, kelapa sawit, lada, kentang, pisang dan jahe. Gejala serangan Fusarium sp. adalah tanaman layu, daun menguning dan mengering mulai dari daun bagian bawah merambat ke daun bagian atas, dan akhirnya mengakibatkan kematian tanaman. Potongan batang melintang pada tanaman yang sakit menunjukkan warna coklat melingkar di sekeliling pembuluhnya. Sedangkan cendawan Verticillium sp. menyebabkan daun-daun menguning, kemudian layu permanen, mirip dengan gejala serangan Fusarium, tetapi daun-daun yang terserang berguguran.
Fusarium sp. merupakan penyakit tular tanah (soilborne disease) yang dapat bertahan secara alami di dalam media tumbuh dan pada akar-akar tanaman sakit dalam jangka waktu yang relatif lama. Infeksi dapat melalui jaringan tanaman yang terluka pada tanaman rentan. Penyakit ini mudah menular melalui benih dan alat pertanian yang digunakan. Penanganan kuratif penyakit ini belum banyak diketahui. Pencegahan penyakit dapat melalui sterilisasi lahan pra tanam, penggunaan bibit yang sehat dan sanitasi lingkungan.
6. Busuk akar dan pangkal batang
Penyakit ini disebabkan oleh fungi Pythium spp. Penyakit ini sering dijumpai pada proses pengakaran stek hingga pada tanaman muda pada awal pertumbuhan. Gejala serangan yaitu kelayuan tanaman dan daun menguning terutama daun bagian bawah. Pangkal batang yang berbatasan dengan akar busuk berwarna kehitaman. Bila tanaman dicabut, akar berwarna coklat sampai hitam dan mengkerut seperti yang terlihat pada gambar 21. Bila bagian yang akarnya busuk dipegang, bagian luar akan mudah terlepas dari bagian dalamnya. Pencegahandengan menggunakan bahan dan media tanam yang bebas penyakit serta penempatan bak-bak pengakaran lebih tinggi dari permukaan tanah untuk mengurangi kemungkinan penularan penyakit. Saat ini sudah banyak juga fungisida yang dapat mengendalikan penyakit ini.

Gambar 21. (i) Busuk pangkal batang Pythium sering menyerang stek pada saat proses pengakaran (kbudiarto.doc) dan (ii) perbandingan kondisi stek tanaman sehat (kiri) dan tanaman yang terserang cendawan (Foto: Maaswinkel dan Sulyo).
4.7.2.3 Nematoda
Root Knot oleh Nematoda akar Meloidogyne sp.
Nematoda ini mempunyai inang yang sangat luas seperti kentang, kubis, tomat, ubi jalar, tembakau, teh, tebu, jahe, dan padi-padian. Gejala khas serangan nematoda akar adalah terbentuknya bintil-bintil akar. Pada bagian akar tanaman yang terinfeksi terbentuk kanker (gall) seperti yang disajikan pada gambar 22, atau bahkan busuk bila serangan sudah serius. Gejala umum yang dapat diamati adalah tanaman menjadi layu dan daun menguning akibat rusaknya perakaran. Pertumbuhan pada bagian atas tanaman menjadi terhambat.

Gambar 22. (i) Akar tanaman krisan yang terserang Meloidogyne (ditunjukkan dengan lingkaran dan tanda panah) serta (ii) dan (iii) gall yang dibentuk akibat serangan larva nematoda (Foto: kbudiarto).
Kumpulan telur nematoda Meloidogyne dilindungi oleh cairan pekat. Larva stadium kedua akan ke luar dari telur, berbentuk cacing dengan ukuran panjang 0,3 – 0,5 mm. Larva tersebut bergerak aktif melalui selaput air di antara partikel-partikel tanah dan menyerang akar tanaman dengan cara melukai epidermis ujung akar dengan stilet (alat penusuk dan pengisap pada mulutnya) lalu masuk ke dalam jaringan sampai ke jaringan tengah. Larva tersebut mengisap cairan sel akar. Cairan pencernaan yang dikeluarkan oleh nematoda ini merangsang terjadinya pembelahan sel akar sehingga terjadi pembengkakan. Keadaan ini dibutuhkan untuk perkembangan larva. Nematoda betina berbentuk seperti buah per dengan ukuran panjang 0,5 – 1,2 mm. Nematoda jantan berbentuk cacing memanjang dengan ukuran 1,0 – 2,0 mm. Saat ini telah banyak nematisida untuk pengendalian nematoda Meloidogyne yang dapat digunakan. Pencegahan penyakit ini dengan sterilisasi media tanam, penggunaan benih yang sehat, serta sanitasi lingkungan pertanaman.
4.7.2.4 Virus dan Viroid
Virus yang telah terdeteksi menyerang tanaman krisan dan terbukti menyebabkan kerugian pertanaman krisan secara signifikan adalah Cucumber Mosaic Virus (CMV) dan Chrysanthemum Virus-B (CVB). Kedua jenis virus mengakibatkan penghambatan pertumbuhan tanaman secara signifikan dan bahkan menyebabkan malformasi bagian-bagian tanaman seperti daun dan petal bunga (gambar 24 i). Tanaman terinfeksi yang rentan terhadap virus menunjukkan gejala daun yang mengecil dan bulat, penghambatan atau bahkan stagnasi pertumbuhan yang jelas dan memudarnya warna (discolored) serta klorotik pada daun dan petal, disertai dengan pertumbuhan bunga yang tidak sempurna. Beberapa serangga hama seperti kutu daun (Aphids) juga dikenal dapat menjadi vektor penyebaran kedua virus di atas pada pertanaman.Selain serangga dan benih sakit, virus juga dapat menular melalui alat-alat pertanian seperti pisau stek, gunting dan lain-lain.

Gambar 23. (i) Malformasi bentuk bunga dan (ii) warna hijau daun yang tidak merata serta penghambatan pertumbuhan tanaman akibat serangan virus (Foto: Sulyo).
Chrysanthemum Stunt Viroid (CSVd) merupakan salah satu viroid yang menginfeksi tanaman krisan. Patogen ini jarang menimbulkan gejala yang jelas pada daun. Tanaman yang terserang umumnya menjadi kerdil dan cepat berbunga. Pada bibit yang sudah generasi lanjut, insiden gejala viroid ini persentasenya makin tinggi, mengakibatkan bunga potong yang layak dipasarkan makin berkurang.

Gambar 24. (i) Gejala serangan TSWV pada tanaman dan (ii) penghambatan pertumbuhan tanaman disebabkan oleh infeksi CSVd (Foto: Maaswinkel dan Sulyo).
Bila serangan sudah terjadi dapat berakibat fatal, karena usaha kuratif bisa dikatakan relatif sulit. Bagi tanaman rentan yang sudah terserang, dianjurkan untuk membuang seluruh tanaman terinfeksi dan mengganti dengan tanaman baru yang berasal dari tanaman sumber bebas virus. Pencegahan dapat dilakukan dengan menamam bibit yang bebas virus, menjaga kebersihan alat-alat pertanian, sanitasi lingkungan dan pencegahan terhadap intrusi serangga vektor.
4.8 Panen
Panen merupakan titik kritis dalam bisnis bunga potong, termasuk bunga krisan. Panen harus dilakukan pada indeks ketuaan panen yang tepat, karena kualitas bunga seusai panen tidak dapat diperbaiki kecuali maksimum hanya dipertahankan. Dalam kaitan teknologi panen ini, mencakup indeks ketuaan panen, waktu panen, alat panen, dan cara panen.
Secara umum indeks panen bunga dapat ditentukan dengan umur (bunga atau tanaman) dan keadaan fisik bunga. Informasi menunjukkan bahwa indeks panen bunga krisan bervariasi menurut varietasnya. Beberapa informasi indeks panen bunga krisan potong dicantumkan pada Tabel 3. Ternyata diameter bunga dipakai sebagai indikator untuk menetapkan waktu panen bunga krisan potong. Keefektifan indeks ini sangat bergantung pada varietas dan pasar. Bila indeks ini efektif maka produsen bunga harus mencetak indeks ini dalam bentuk cetakan yang jelas, menarik dan mudah dipahami untuk pedoman panen bagi pekerja. Bila digunakan indeks panen pada penampilan visual, maka perlu dibuat fotonya pada setiap tingkat perkembangan influoresens dan dicetak yang baik untuk pedoman bagi pemanen.
Tabel 3. Indeks panen bunga krisan potong
|
Spesies |
Varietas |
Indeks Panen |
Referensi |
|
C. frutenscens |
Marguerite daisy |
Petal yang panjang membuka & ring luar stamens terlihat |
Reid & Lukaszewski, 1988 |
|
C. morifolium |
Standard |
Infloresens dari kuncup – mekar penuh (diameter 2”, 31/2” dan 5”) |
sda |
|
|
Pompons |
Petal membuka tapi masih tegak |
sda |
|
D. grandiflora |
Yellow fiji (standard) |
50% mekar (diameter 5-6 cm) |
Murtiningsih et al., 2002 |
|
|
White Fiji dan yellow fiji |
75% mekar atau diameter 6-7 cm |
Prabawati et. al., 2002 |
|
|
Puma, Yellow puma, White Reagent, Town Talk (spray) |
Sebagian besar petal membuka tetapi masih tegak |
|
|
D. grandiflora |
|
Influoresens mekar penuh |
Effendie, 2002 |
Waktu panen bunga bagi petani bunga, kebanyakan didasarkan pada pertimbangan kepraktisan. Misalnya panen pada pagi hari, dengan alasan pasarnya dekat sehingga habis panen langsung dapat ditangani dan dijual ke pasar, sehingga bunga masih segar. Atau panen pagi dimaksudkan agar tersedia waktu cukup untuk preparasi pada siang hari sehingga produk dapat diangkut ke pasar yang jauh pada malam hari, kondisinya lebih dingin dibandingkan siang hari. Berkaitan dengan waktu panen ini, Prabawati et. al. (2002) menggunakan waktu panen krisan untuk penelitian pada jam 06.00 – 08.00.
Ada beberapa cara panen bunga krisan potong, yaitu untuk jenis Marguerite Daisy adalah menggunakan pisau atau gunting yang tajam dan untuk C. morifolium menggunakan pisau, gunting atau alat yang didesain khusus, pada jarak sekitar 10 cm dari permukaan tanah, atau untuk krisan pompon dicabut baru kemudian dipotong sesuai ukuran yang dikehendaki. Walaupun pertanaman seruni sudah cukup banyak di Indonesia, namun informasi tentang cara panen ini belum diketemukan.
Hal lain berhubungan dengan teknologi panen ini adalah wadah bunga krisan yang telah dipanen. Jenis dan bahan wadah, kapasitas, dan cara peletakan bunga ke wadah harus baku. Informasi tentang hal ini belum pernah ditemukan. Namun dapat dipahami bahwa wadah yang digunakan harus tidak merusakkan bahan yang diwadahi. Cara peletakan dalam wadah harus sedemkian rupa sehingga tangkai bunga tidak patah dan petal dan daun tidak rusak. Untuk bunga krisan potong, dengan menaruh pangkal tangkai bunga secara berdiri namun tidak terlalu padat lebih baik dibandingkan dengan cara peletakan secara direbahkan dan ditumpuk.
Setelah panen, harus dihindarkan penaruhan bunga di tanah. Hal ini untuk mengurangi kontaminasi dan kerusakan daun dan petal bunga. Dengan alat kemas tertentu bunga krisan yang telah dipotong diangkut ke bangsal pengemasan. Alat angkut yang digunakan bergantung pada jarak kebun dengan packinghouse, fasilitas yang ada, dan kondisi topografi kebun. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ember plastik digunakan untuk wadah bunga krisan potong dan diangkut dengan tenaga manusia bila bangsal pengemasan berada di lokasi kebun. Setelah dikemas, bunga potong siap untuk dikirim/dipasarkan.
V. Tanaman Induk untuk Produksi Stek
Tanaman induk adalah tanaman yang dipelihara khusus untuk produksi stek. Bahan tanam untuk tanaman induk dapat berupa stek berakar hasil perbanyakan konvensional atau tanaman yang sudah diaklimatisasi hasil perbanyakan kultur jaringan. Berdasarkan fungsinya sebagai penghasil stek, maka tanaman induk dipelihara selalu dalam keadaan vegetatif aktif dengan penyinaran tambahan hingga tanaman tidak produktif.
Stek yang dihasilkan harus berasal dari tunas samping (tunas aksiler) yang tumbuh dari ketiak daun. Tunas aksiler yang tumbuh dari ketiak daun terstimulasi setelah pertumbuhan apikal pada cabang yang sama terhenti (dipanen atau di-pinching). Maaswinkel dan Sulyo (2004) mengemukakan bahwa pemeliharaan tanaman induk perlu mendapat perhatian yang serius, sehubungan dengan kualitas stek yang akan dihasilkan. Keragaan tanaman induk akan mempengaruhi mutu stek yang dihasilkan dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap tanaman yang hendak ditanam. Tata cara budidaya tanaman induk adalah sebagai berikut:
* Minggu 0 – 2 = stek dalam proses pengakaran
* Minggu 3 = penanaman stek dalam bedengan.
* Minggu 4 = pinching
* Minggu 7 – 23 = panen/produksi stek
* Minggu 23 = tanaman induk dibongkar/diganti dengan tanaman baru.
Dengan demikian, usia produktif tanaman dalam menghasilkan stek yaitu pada minggu ke 7 – 23 (16 minggu).
Sehubungan dengan tata cara pemotongan tunas aksiler sebagai stek, Maaswinkel dan Sulyo (2004) lebih lanjut mengemukakan bahwa tunas apikal dipotong dengan menggunakan pemotong steril dengan menyisakan 2 – 3 daun pada batang/cabang yang dipotong, sekalipun jumlah tunas aksiler yang tumbuh dari ketiak daun berbanding lurus dengan sisa daun yang ditinggalkan hingga 7 – 8 daun (De Ruiter, 1997). Hal ini berhubungan dengan pemeliharaan bentuk tajuk dan kanopi tanaman induk agar tidak cepat rimbun sehingga stek yang dihasilkan memiliki kualitas yang memadai.
Tunas aksiler yang tumbuh pada ketiak daun setelah apikal dipotong, dimungkinkan berjumlah lebih dari satu dengan waktu yang tidak bersamaan (Ahmad dan Marshall, 1997) dan tidak seragam (Chockshull, 1982), sehingga tunas aksiler yang akan dipanen sebagai bahan stek selanjutnya kemungkinan tidak seragam. Menurut Maaswinkel dan Sulyo (2004), tunas aksiler yang dipanen untuk bahan stek hendaknya tunas yang telah memiliki kriteria 5 – 7 daun sempurna. Bila pada saat panen, dijumpai tunas aksiler muda atau yang belum memiliki kriteria tersebut diatas, maka tunas aksiler ini dibiarkan hingga pada saatnya dapat dipanen (panen stek berikutnya).
Davies dan Potter (1981) mengemukakan bahwa kualitas pertumbuhan tanaman krisan sangat dipengaruhi oleh kualitas bahan tanamnya (kualitas stek). Selanjutnya kualitas stek sangat dipengaruhi oleh performa dan sejarah pertumbuhan tanaman induk dimana stek tersebut berasal. Stek berkualitas rendah dapat disebabkan oleh kesalahan penanganan stek setelah panen, proses pengakaran stek atau bahkan kualitas tanaman induk tanaman sumber stek tersebut sudah tidak memadai (Klapwijk, 1987).
Banyak kasus menunjukkan bahwa kualitas tanaman induk yang buruk berkaitan dengan rendahnya kualitas stek yang dihasilkan. Moe (1988) mengemukakan bahwa tanaman induk yang telah terinduksi ke fase generatif akan menghasilkan tunas aksiler dengan pertumbuhan lebih lambat dan sedikit. Dalam proses pengakaran, pertumbuhan akar lebih lambat sehingga periode pengakaran lebih lama dengan jumlah lebih sedikit dan pendek (De Vier dan Geneve, 1997). Gejala yang sama pun sering terlihat bila stek diambil dari tanaman induk yang sudah tua dan tidak produktif lagi dalam menghasilkan stek. Davies dan Potter (1981) mengemukakan bahwa kandungan karbohidrat pada tunas aksiler juga mempengaruhi kecepatan dan kekompakan pertumbuhan akar stek pada saat proses pengakaran. Semakin sering tanaman induk dipanen steknya, maka kecepatan dan kualitas pertumbuhan tunas aksiler akan semakin menurun karena distribusi karbohidrat yang tidak merata, sehingga kualitas stek yang dihasilkan pun akan semakin rendah (Ahmad dan Marshall, 1997).
Budidaya tanaman induk dilakukan dalam rumah lindung yang terpisah dengan pertanaman untuk produksi bunga. Pertanaman induk dapat menggunakan mulsa plastik untuk mengurangi pertumbuhan gulma yang cepat (gambar 25). Mulsa ini juga berfungsi untuk menjaga kestabilan sifat fisik dan kimia tanah pada lahan bedengan selama proses pertanaman.

Gambar 25. (i) Pertanaman tanaman induk dalam rumah kaca dengan menggunakan mulsa dan (ii) tanaman induk tanpa mulsa dalam rumah plastik (Foto: Maaswinkel dan Sulyo).
Pada pertanaman induk krisan, pemberian GA3 dengan konsentrasi 100 ppm perminggu selama masa produktif dianjurkan untuk menstimulasi pertumbuhan tunas aksiler dan mengurangi etiolasi pada tunas aksiler (Marwoto, et. al., 2000). Selain pupuk dasar, pemupukan lanjutan dilakukan setiap tiga minggu dan pupuk daun dengan frekuensi dan dosis yang sama seperti tanaman produksi bunga hingga tanaman induk tidak produktif menghasilkan stek. Setelah tanaman induk berumur lebih dari 23 minggu atau bila produktifitas tanaman induk dan kualitas stek yang dihasilkan menurun, tanaman induk dapat dibongkar dan diganti dengan tanaman baru.
Sumber : Budiarto, K.,Y. Sulyo, Ruud Maaswinkel dan S. Wuryaningsih. 2006. Budidaya krisan bunga potong: Prosedur sistem produksi. Jakarta. Puslitbanghorti. 60 hal. ISBN : 979-8842-20-0





mau tanya , bisa beli bibit krisan dimana ya ? Kebun saya di Ciawi, caringin. Terima kasih.
tolong info dimana saya bisa dapatkan artikel tentang Hemiliea Vastatrix termasuk penanggulangannya…
kalau ada referensi dan tidak merepotkan tolong kirimkan ke e mail aai_37@yahoo.com.. terimakasih sebelumnya.
tolong info tentang Hemaliea Vastatrix, referensi dan penanggulangannya, thx…
buk bagus blognya..
tetap jaya aja……….
Asalamualikum, bu saya sangat menyukai bunga krisan saya ada pertanyaan apakah bunga krisan bisa dikembangkan didaerah rawa karena tempat saya tinggal daerahnya rawa, apakah bunga krisan hidupnya didaerah berudara dingin tempat tinggal saya udaranya kadang dingin dan berawa apakah ini mempengaruhi hidup bunga krisan
Asl. saya mau kembangkan tanaman bunga potong di batam. sebenarnya suhunya sih sangat ekstrim berkisar 25.6-27.7″C. apakah memungkinkan ditanam dan bagaimana sebaiknya treatmen supaya tanaman dapat tumbuh subur?. penggunaan paranet sebaiknya yang berapa% kerapatannya?. sekian
Terima Kasih
Yth Rani,
Waalaikum salam, Banyak tanaman bunga potong tropis yang bisa ditanam. Agar dapat tumbuh subur, diperlukan identifikasi faktor – faktor apa yang membatasi. Penggunaan kerapatan paranet tergantung pada jenis tanaman. Semoga bermanfaat dan success selalu.
Ass. Wr.Wb.
mohon kirim contoh contoh varian bunga krisan, saya sangat berterimakasih, karena krisan termasuk budidaya yang saya kembangkan saat ini. trims.
Yth Bapak Sigit, Terima kasih atas komentarnya. Untuk contoh bapak bisa menghubungi Balai Penelitian Tanaman Hias Semoga succes
________________________________
ass wb ,selamat pagi ….mohon panduan untuk sistem penempatan & system kemas dimulai dari petani hingga ke toko serta daya tahan bunga krisan semenjak dipotong hingga ke toko & kira 2x tempat yang seperti apa yang dibutuhkan diwaktu menyimpan
Bisa minta tolong kasi saya info alamat petani pemasok bunga krisan di Ciawi Bogor dan sekitarnya. terimakasih
Ass’ Saya menjual bibit krisan potong,beserta bunga freshdan daun-daunan untuk pilar rangkaian dekorasi.Bagi yg berminat silakan hub.Ina Marlina 085219489320, email smmarlina@gmail.com, untuk kebun di Jl.Cikampak. Bogor.dan di Kp.Sukabirus .Kec.megamendung Bogor.JABAR
ass.wr.wb,lam kenal bu,saya Jauhar IPB mewakili, PT KEMBANG LANGIT,mempunyai suatu tehnik untuk mengendalikan hama Thrips,Tungau dan Liriomyza,secara alami tanpa menggunakan bahan aktif Abamektin,hal ini telah berhasil kami lakukan pada tanaman cabe,tomat dan jeruk.untuk lebih detailnya kami persilahkan untuk mengunjungi blog kami.Trims
Ok