Abstrak. Anthurium (Anthurium sp) merupakan salah satu komoditas tanaman hias sudah banyak dikenal oleh masyarakat pecinta tanaman hias. Selain digemari masyarakat karena warna bunganya yang sangat variatif, bunga potong ini juga dikenal memiliki daya kesegaran bunga yang lama dalam vas. Pada budidaya tanaman ini, media tanpa tanah sudah umum digunakan sebagai alternatif media tumbuh, sehubungan dengan dampak negatif media tumbuh berupa tanah dan campurannya. Serbuk sabut kelapa yang ketersediaanya berlimpah, dimungkinkan dapat dimanfaatkan lebih lanjut sebagai media tumbuh bunga potong anthurium. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui performa pertumbuhan, kualitas dan kuantitas bunga yang dihasilkan oleh tiga kultivar bunga potong anthurium pada media tumbuh tanpa tanah dan mengetahui pengaruh jenis media tanpa tanah terhadap pertumbuhan dan hasil bunga potong anthurium. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung dari bulan Agustus 2004 hingga Agustus 2005. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) lengkap pola faktorial dengan 4 ulangan. Faktor pertama adalah tiga kultivar bunga potong anthurium yaitu cv. Angel, cv. Kaumana dan cv. Sonate. Sedangkan faktor kedua adalah media tanpa tanah, yaitu serbuk sabut kelapa dan media yang sudah umum digunakan petani yaitu campuran serbuk gergaji + pasir + sekam = 1 : 1 : 1 v/v. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kultivar berpengaruh pada performa pertumbuhan, kualitas dan produksi bunga. Performa pertumbuhan, kualitas bunga dan produksi tanaman bunga potong anthurium pada media tumbuh tanpa tanah dipengaruhi oleh jenis kultivar. Kultivar Sonate memiliki kualitas pertumbuhan yang terbaik dibanding kultivar cv. Angel dan cv Kaumana, walaupun produksi bunganya tidak berbeda nyata dengan cv. Angel, sedangkan cv. Kaumana memiliki performa pertumbuhan, kualitas bunga, dan produksi terendah. Kualitas dan produksi bunga potong anthurium yang ditanam pada media serbuk sabut kelapa tidak lebih baik dibandingkan dengan tanaman yang ditanam pada media serbuk gergaji + pasir + sekam. Sehingga media serbuk gergaji + pasir + sekam dapat diimplikasikan sebagai media alternatif pengganti serbuk sabut kelapa.
Kata kunci : Anthurium (Anthurium sp), kultivar, media tumbuh tanpa tanah, pertumbuhan, produksi bunga.
ABSTRACTS. Wuryaningsih, S. dan K. Budiarto. 2006. Growth performance and flower production of three anthurium cultivars grown in soilless media. Anthurium is one of important ornamental cut flower in Indonesia. Their long life span and various spathe colors have made this commodity was more preffered for bucket arrangement. In commercial anthurium grower, soilles media were often used regarding the negatif impact of soil media that commonly found in the production process. Efforts have been made to make the production process become more profitable. Aside from the existence of the substance was naturally abundant, the use of coir dust for anthurium was technically applicable. The reseach then was conducted to find out the growth performance and production of three anthurium cultivars grown in soilles media and the influences of different soilles substrates on the growth and flower production of anthurium. The experiment was carried out in Indonesian Ornamental Crops Reseach Institute (1,100 masl) from August 2004 to August 2005. The experiment was arranged in Randomized Completely Block Design with four replications. The first factor was three cut flower anthurum cultivars, namely cv. Angel, cv. Kaumana and cv. Sonate. While the second factor was different soilles substrates in the form of sawdust + sand + fresh rice husk.. The results of the experiment showed cultivars showed different performances on growth and yield when planted on soilles media. The better vegetative growth performace was found in cv. Sonate. However, the number of harvestable flowers of this cultivar was not significantly different from cv. Angel. The less performances on vegetative and flower production was reflected by cv. Kaumana. The production and quality of flower anthurium growth on coir dust media not better than on the saw dust + sand + fresh rice husk media. The implication of the research result was the saw dust + sand + fresh rice husk media as a alternative of coir dust media.
Keywords : Anthrium cut flower, cultivars, soilles media, growth performance, flower production.
Pendahuluan
Anthurium (Anthurium sp) merupakan salah satu komoditas penghasil bunga potong yang populer baik di dunia maupun di Indonesia. Tanaman ini tergolong famili Araceae yang berasal dari Amerika Selatan dan telah dapat beradaptasi baik pada kondisi lingkungan tropis seperti Indonesia. Pada habitat aslinya, tanaman ini hidup secara endemik pada intensitas cahaya rendah di bawah tajuk rindangan pohon dalam hutan pada kelembaban lingkungan yang tinggi. Beberapa spesies tanaman fotoautotroph ini juga diidentifikasi mampu tumbuh sebagai tanaman epifit yang hidup pada tegakan kayu atau batang pohon yang menaunginya. Bunga potong anthurium sangat diminati oleh masyarakat pecinta tanaman hias karena selain warna spathenya yang sangat beragam, bunga potong anthurium juga dikenal mempunyai daya kesegaran bunga dalam vas yang lama (Rosario, 1991).
Petani tradisional pada umumnya masih menggunakan media tanah atau campuran bahan tanah sebagai media tumbuh tanaman anthurium. Penggunaan media campuran tanah ini mempunyai beberapa kelemahan, yaitu media tanah cenderung lebih berat dibandingkan bentuk media lainnya, sehingga menimbulkan kesulitan pada saat transportasi. Selain itu, di samping mutunya yang sangat beragam, media tanah juga sering turut berperan terhadap penyebaran hama dan penyakit, terutama penyakit tular tanah. Berkaitan dengan hal ini, di beberapa negara di dunia menerapkan peraturan yang ketat sehubungan dengan masuknya bahan tanaman dari daerah lain yang menggunakan tanah sebagai bahan tanam (Wuryaningsih et. al., 1995).
Penggunaan media tumbuh tanpa tanah pada anthurium sebenarnya bukan hal yang baru. Pada beberapa petani bunga anthurium yang lebih modern, media tumbuh tanpa tanah untuk budidaya anthurium sudah lazim digunakan. Beberapa jenis media tanpa tanah yang banyak digunakan pada skala komersial ini adalah perlite, campuran sekam, arang sekam dan pasir, spagnum dan arang kayu. Di negara lain para petani bahkan menggunakan batang pakis, kulit pohon pinus, bagas tebu, serbuk gergaji dan serutan kayu untuk media tanam anthurium (Handreck dan Black, 1994).
Serbuk sabut kelapa (coir dust) merupakan salah satu jenis bahan yang dapat dapat dipergunakan sebagai media tumbuh tanaman hias. Pemilihan bahan sabut kelapa sebagai bahan media didasarkan atas pertimbangan bahwa selain ketersediaan bahan yang melimpah, penggunaan bahan ini diharapkan memberikan nilai tambah pada sabut kelapa yang selama ini lebih banyak dikategorikan sebagai sampah. Dengan demikian, selain sebagai bahan alternatif media tanam yang berharga murah, langkah ini sekaligus dapat menunjang kenyamanan lingkungan dan melestarikan sumber daya alam (Wuryaningsih et. al., 1999).
Sabut kelapa juga dilaporkan mempunyai sifat fisik dan kimia yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Menurut Ketaren dan Djatmiko (1981), sabut kelapa selain mempunyai aerasi dan drainasi yang baik, juga mempunyai kapasitas menahan air (water holding capacity) yang besar. Analisis kimia pada bahan ini menunjukkan bahwa sabut kelapa juga mengandung unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman seperti K, N, P, Ca dan Mg sekalipun dalam jumlah yang kecil (van Mageland-Laanland, 1995). Namun demikian, penggunaan sabut kelapa sebagai media tumbuh tanaman juga tidak dapat diaplikasikan secara langsung. Sabut kelapa dikenal mempunyai sifat konduktifitas listrik (Electrical Conductivity/EC) yang tinggi. EC merupakan nilai yang menunjukkan keadaan banyak atau tidaknya ion-ion yang terlarut dalam media tumbuh dan beberapa tanaman dilaporkan sangat sensitif terhadap kondisi EC yang tinggi ini. Oleh sebab itu, Elia et. al (1998) menyarankan bahwa sabut kelapa yang digunakan untuk media tumbuh tanaman, hendaknya telah melalui pemrosesan terlebih dahulu sehingga EC bahan tersebut dalam kriteria yang aman untuk tanaman.
Penggunaan bahan sabut kelapa sebagai media tumbuh tanaman hias sebenarnya sudah banyak dilaporkan. Di Belanda, penggunaan sabut kelapa sebagai media tanam sudah sangat luas untuk tanaman-tanaman seperti mawar, anggrek, spathyphyllum dan lain-lain (Claassen, 2004). Wuryaningsih et. al. (2004 a) juga melaporkan bahwa serbuk sabut kelapa juga dapat dipergunakan sebagai media tanam anthurium pot dengan kualitas pertumbuhan tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan media yang umum digunakan pada skala komersial. Namun demikian, penggunaan sabut kelapa sebagai bahan tanam anthurium bunga potong dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan kualitas bunga yang dihasilkan belum banyak dilaporkan. Sehubungan dengan hal tersebut, maka penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui performa pertumbuhan, kualitas dan kuantitas bunga yang dihasilkan oleh tiga kultivar anthurium potong pada media tumbuh tanpa tanah dan mengetahui pengaruh jenis media tanpa tanah terhadap pertumbuhan dan hasil anthurium bunga potong.
BAHAN DAN METODE
Penelitian dilakukan di bawah kondisi rumah screen di stasiun percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung (1.100 m dpl) dari bulan Agustus 2004 hingga Agustus 2005. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan 4 ulangan. Faktor pertama adalah tiga kultivar bunga potong anthurium yaitu cv. Angel (V1), cv. Kaumana (V2) dan cv. Sonate (V3). Faktor kedua adalah media tanpa tanah, yaitu campuran serbuk gergaji + pasir + sekam (M1) dan serbuk sabut kelapa (M2) ) = 1: 1:1 v/v. Pelaksanaan penelitian diuraikan sebagai berikut.
Petak-petak percobaan dibuat dengan menggunakan lapisan batako dengan ukuran petak masing-masing 1 x 2 m dengan 12 tanaman setiap petak. Jarak antar petak adalah 1 m dengan jarak antar ulangan 2 meter. Media tanam yang telah disiapkan, dimasukkan dalam petak-petak percobaan dengan ketebalan 30 – 40 cm. Materi tanam dari tiga kultivar anthurium bunga potong yang dicoba dan telah diseleksi keseragamannya (minimal mempunyai 2 daun dewasa yang telah mekar sempurna) ditanam pada petak-petak sesuai dengan desain penelitian. Tanaman yang telah ditanam kemudian dipelihara lebih lanjut dengan pemupukan dan aplikasi pestisida sebagai usaha preventif terhadap hama dan penyakit. Pemupukan dilakukan secara teratur setiap dua minggu dengan pupuk NPK = 15 : 15 : 15 dengan dosis 2 g/liter air dan volume pemberian sama untuk setiap plot sebanyak 5 liter. Aplikasi pestisida dilakukan secara bergantian antara insektisida dan fungisida setiap minggu dengan dosis sesuai rekomendasi bahan yang digunakan. Sedangkan penyiraman dilakukan 2 kali seminggu disesuaikan dengan kondisi pertanaman. Parameter pertumbuhan yang diamati dari 5 sampel tanaman meliputi jumlah daun (dihitung dari jumlah daun sebelumnya ditambah bila ada penambahan daun baru yang sudah mekar) dan luas daun. Luas daun dihitung berdasarkan formula pendekatan yang dikemukakan oleh Dofour dan Guerin (2005) : luas daun = 0,92 X panjang daun X lebar daun. Sedangkan parameter yang berkaitan dengan bunga dilakukan pada saat bunga siap panen yaitu pada saat terjadi perubahan warna spadik yang berkisar antara ½ - ¾ dari warna asli spadik meliputi panjang tangkai bunga (diukur panjang tangkai bunga dari bagian dasar hingga bagian yang melekat pada spathe), panjang dan lebar spathe (diukur dari bagian spathe yang terlebar dan terpanjang), diameter dan panjang spadiks (diameter diukur bagian terlebar spadiks menggunakan jangka sorong , panjang spadiks diukur dari dasar bunga hingga ujung spadiks) serta total produksi bunga (jumlah produksi bunga selama 8 bulan ). Sedangkan parameter yang berkaitan dengan bunga yang diamati adalah panjang tangkai bunga, panjang dan lebar spathe, diameter dan panjang spadiks. Selanjutnya total produksi bunga merupakan total produksi bunga per petak yang diamati selama 8 bulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil analisis ragam pada Tabel 1 menunjukkan bahwa faktor ulangan (blok) tidak berpengaruh pada semua peubah yang diamati. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan dan faktor lain yang melingkupi areal penelitian dan terpisah karena faktor ulangan tidak berinteferensi secara signifikan terhadap tanaman anthurium. . Tabel 1 a & b juga menunjukkan bahwa kultivar anthurium yang dicoba menunjukkan perbedaan yang signifikan pada jumlah daun pada 115 dan 145 hari setelah tanam, luas daun, panjang dan diameter tangkai bunga, panjang dan lebar spathe, panjang dan diameter spadiks dan produksi bunga. Namun demikian jenis media hanya berpengaruh nyata pada jumlah daun pada 145 hari setelah tanam dan luas daun. Demikian pula pengaruh interaksi antara kultivar dan jenis media tanpa tanah tidak terdeteksi secara signifikan terhadap semua peubah yang diamati
Tabel 1a : Analisis ragam perlakuan jenis media tumbuh tanpa tanah pada beberapa kultivar bunga potong anthurium terhadap jumlah daun pada 115 dan 145 hari setelah tanam (hst), luas daun, panjang dan diameter tangkai bunga, panjang spathe.(Analysis of variance of type of soiless media treatment to anthurium cultivars on number of leaves on 115 and 145 days after planting (dap), leaf area, stalk length and diameter,and spathe length.).
|
Sumber keragaman (Source of variance) |
Jumlah daun (Number of leaves) |
Luas daun (Leaf area) |
Panjang tangkai bunga (Stalk lenght) |
Diameter tangkai bunga (Stalk diameter) |
Panjang spathe (Spathe lenght) |
|
|
115 HST (115 DAP) |
145 HST (145 DAP) |
|||||
|
Ulangan |
tn |
tn |
tn |
tn |
tn |
tn |
|
Faktor A (Kultivar) |
* |
* |
** |
* |
* |
** |
|
Faktor B (Jenis media tanpa tanah) |
tn |
* |
* |
tn |
tn |
tn |
|
Interaksi A * B |
tn |
tn |
tn |
tn |
tn |
tn |
|
CV (%) |
12,73 |
11,47 |
10,87 |
14,46 |
11,28 |
12,62 |
Keterangan : tanda satu asterik (*) = berbeda nyata pada taraf 5%, dua asterik (**) = berbeda sangat nyata pada taraf 1% dan ’tn’ = tidak berbeda nyata.
(Remarks : * = significantly different at 5 %, ** = significantly different at 1% and ’tn’ = not significantly different by F test).
Tabel 1b :. Analisis ragam perlakuan jenis media tumbuh tanpa tanah pada beberapa kultivar bunga potong anthurium terhadap lebar spathe, panjang dan diameter spadiks serta total produksi bunga (Analysis of variance of type of soiless media treatment to anthurium cultivars on spathe width, spadix length and diameter and flower production).
|
Sumber keragaman (Source of variance) |
Lebar Spathe (Spathe width) |
Panjang spadiks (Spadix lenght) |
Diameter spadiks (Spadix diameter) |
Produksi bunga (Flower production) |
|
|
Ulangan |
tn |
tn |
tn |
tn |
|
|
Faktor A (Kultivar) |
* |
** |
* |
* |
|
|
Faktor B (Jenis media tanpa tanah) |
tn |
tn |
tn |
tn |
|
|
Interaksi A * B |
tn |
tn |
tn |
tn |
|
|
CV (%) |
10,65 |
14,32 |
9,37 |
15,73 |
|
Performa pertumbuhan dan kualitas bunga potong tiga kultivar anthurium.
Tabel 1 memperliharkan bahwa jenis kultivar menunjukkan perbedaan performa pertumbuhan jumlah daun pada 115 hari dan 145 hari setelah tanam dan total luas daun. Pada pengamatan 115 hari setelah tanam, cv. Sonate memiliki jumlah daun yang lebih banyak dibanding dua kultivar lainnya. Pada pengamatan 30 hari kemudian, kultivar ini tetap menunjukkan jumlah daun yang terbanyak. Jumlah daun paling sedikit diperlihatkan oleh cv. Kaumana baik pada 115 maupun 145 hari setelah tanam.
Tabel 2: Respon antar varietas terhadap jumlah daun pada umur 115 dan 145 hari dan luas daun pada bunga potong anthurium (Responses among cultivars on the number of leaves at 115 and 145 days after planting and leaf area of anthurium cut flower).
|
Kultivar (Cultivars) |
Jumlah daun *) (Number of leaves) hst (dap) |
Luas daun*) (Total leaf area) cm2 |
|
|
115 |
145 |
||
|
Angel |
5.38 b |
5,82 b |
2.474,47 b |
|
Kaumana |
4,12 a |
4,28 a |
577,04 a |
|
Sonate |
6,01 c |
7,37 c |
2.852.95 c |
*) angka-angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama, berbeda pada LSD 5 %. (values followed by different letters in the same column differ significantly at LSD 5 %).
Ketiga kultivar bunga potong anthurium juga menunjukkan respon pertumbuhan luas daun yang berbeda. Cv. Sonate memiliki total luas daun yang paling tinggi, kemudian diikuti oleh cv. Angel. Sedangkan luas daun terkecil diperlihatkan oleh cv. Kaumana yaitu hanya sekitar 20 % bila dibandingkan dengan cv. Sonate dan 23 % bila dibandingkan dengan cv. Angel.
Tabel 3 memperlihatkan bahwa ketiga kultivar bunga potong anthurium yang dicoba menujukkan penampilan yang berbeda pada kualitas bunga yang dihasilkan. Cv. Sonate menujukkan panjang tangkai dan diameter tangkai bunga yang paling tinggi, diikuti oleh cv. Angel dan cv. Kaumana. Namun demikian, kultivar ini hanya menduduki peringkat kedua untuk panjang dan lebar spathe setelah cv. Angel. Sedangkan cv. Kaumana memperlihatkan panjang dan diameter tangkai serta panjang dan lebar spathe yang terkecil.
Tabel 3.:Panjang tangkai, diameter tangkai bunga, panjang spathe dan lebar spathe menurut kultivar bunga potong anthurium (Stalk length and diameter, spathe length and width of anthurium cut flower cultivars)
|
Kultivar (cultivars) |
Panjang tangkai bunga *) (stalk length) |
Diameter tangkai bunga*) (stalk diameter) |
Panjang spathe*) (spathe length) |
Lebar spathe*) (spathe width) |
|
Angel |
37,39 b |
0,31 b |
11.38 c |
8,79 c |
|
Kaumana |
34,71 a |
0,28 a |
6.88 a |
5,49 a |
|
Sonate |
44,39 c |
0,41 c |
7,64 b |
6,99 b |
Perbedaan penampilan bunga juga terlihat untuk parameter panjang dan diameter spadiks (Tabel 4). Panjang dan diameter spadiks terbesar terlihat pad cv. Angel diikuti oleh cv. Sonate dan cv. Kaumana. Namun demikian, total produksi bunga cv. Angel tidak berbeda signifikan dengan cv. Sonate, sedangkan total produksi bunga terkecil diperlihatkan oleh cv. Kaumana.
Tabel 4
anjang spadiks, diameter spadiks dan total produksi bunga menurut kultivar anthurium yang dicoba (Spadix length and diameter and number of harvestable flowers of 3 anthurium cut flower cultivars).
|
Kultivar (cultivars) |
Panjang spadiks *) (spadix length) |
Diameter spadiks*) (spadix diameter) |
Total produksi bunga*) (number of harvestable flowers) |
|
Angel |
8,46 c |
0,83 c |
58,63 b |
|
Kaumana |
4,21 a |
0,55 a |
23,37 a |
|
Sonate |
5,71 b |
0,70 b |
55,13 b |
Perbedaan performa tumbuh, kualitas bunga dan total produksi yang diperlihatkan ketiga varietas anthrium bunga potong mengindikasikan adanya perbedaan respon menurut kultivar pada media tumbuh tanpa tanah. Cv. Sonate memperlihatkan performa pertumbuhan vegetatif yang lebih baik dibandingkan dengan cv. Angel dan cv. Kaumana dari jumlah daun dan total luas daun yang lebih besar. Namun demikian, pada parameter kualitas bunga, kultivar ini hanya memperlihatkan penampilan yang lebih baik pada panjang tangkai bunga dan diameter tangkai bunga bila dibandingkan dengan cv. Angel. Sebaliknya cv. Angel jusru memperlihatkan performa bunga yang lebih baik dibandingkan cv. Sonate pada panjang dan spathe serta panjang dan diameter spathe, sekalipun total produksi bunga kedua kultivar anthurium ini tidak berbeda nyata. Namun demikian, pada semua parameter pertumbuhan, kualitas bunga serta total produksi bunga yang dihasilkan, cv. Kaumana selalu memperlihatkan nilai yang terendah di antara ketiga kultivar anthurium yang dicoba. Perbedaan performa pertumbuhan dan kualitas bunga serta total produksi bunga antar ketiga kultivar yang dicoba mengindikasikan adanya perbedaan karakteristik pertumbuhan pada masing-masing varietas yang dicoba. Perbedaan karakterisitik sangat dipengaruhi oleh faktor genetik tanaman yang pada dasarnya bersifat sangat spesifik (Allard and Bradshaw, 1984) dan terekspresikan pada penampilan fenotipiknya (Hanley and Robinson, 1994).
Performa pertumbuhan dan kualitas bunga potong anthurium pada media tumbuh tanpa tanah yang berbeda
Hasil pengamatan pada tabel 5 memperlihatkan bahwa jenis media tanpa tanah berpengaruh terhadap performa pertumbuhan vegetatif bunga potong anthurium. Pada 145 hari setelah tanam, tanaman anthurium yang ditanam pada media serbuk sabut kelapa memperlihatkan rata-rata jumlah daun lebih banyak dibandingkan dengan yang ditanam pada media serbuk gergaji + pasir + sekam. Jumlah daun yang lebih banyak pada tanaman yang ditanam pada media ini pun sebenarnya telah terdeteksi 30 hari sebelumnya (115 hari setelah tanam) walaupun tidak berbeda nyata. Perbedaan pertumbuhan vegetatif juga terlihat pada parameter total luas daun. Tanaman anthurium yang ditanam pada media serbuk sabut kelapa menunjukkan total luas daun yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman yang ditanam pada media serbuk gergaji + pasir + sekam.
Tabel 5: Jumlah daun pada 115 dan 145 hst dan luas daun bunga potong anthurium menurut media tanpa tanah (Number of leaves at 115 and 145 dap and leaf area of anthurium cut flower in 2 different soilless media).
|
Media tanpa tanah (Soilless media types) |
Jumlah daun *) (number of leaves) hst (dap) |
Luas daun*) (total leaf area) cm2 |
|
|
115 |
145 |
||
|
Serbuk gergaji + pasir + sekam |
4,85 a |
5,44 a |
1.684,78 a |
|
Serbuk sabut kelapa |
5,53 a |
6,21 b |
2.002,11 b |
Akan tetapi jenis media tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas bunga dan total bunga anthurium potong yang dihasilkan (Tabel 6 dan Tabel 7). Tanaman anthurium yang ditanam pada media serbuk sabut kelapa sebenarnya memperlihatkan panjang tangkai bunga, diameter tangkai bunga, panjang dan lebar spathe, panjang dan diameter spadiks dan total produksi bunga yang lebih besar, tetapi nilai parameter kualitas bunga dan produksi tersebut tidak berbeda nyata bila dibanding anthurium yang ditanam pada media serbuk gergaji + pasir + sekam.
Tabel 6. Panjang tangkai bunga, diameter tangkai bunga, panjang spathe dan lebar spathe bunga potong anthurium menurut media tanpa tanah. (Stalk length and diameter, spathe length and width of anthurium cut flower grown in 2 different soilless media).
|
Media (Media) |
Panjang tangkai bunga *) (stalk length) |
Diameter tangkai bunga*) (stalk diameter) |
Panjang spathe*) (spathe length) |
Lebar spathe*) (spathe width) |
|
Serbuk gergaji + pasir + sekam |
47,54 a |
0,27 a |
8,44 a |
6,63 a |
|
Serbuk sabut kelapa |
48,23 a |
0,28 a |
8,81 a |
6,88 a |
Tabel 7: Panjang spadiks, diameter spadiks & total produksi bunga potong anthurium enurut media tanpa tanah. (Spadix length, spadix diameter and number of harvestable flowers of anthurium cut flower grown in 2 different soilless media).
|
Media (cultivars) |
Panjang spadiks *) (spadix length) |
Diameter spadiks*) (spadix diameter) |
Total produksi bunga*) (number of harvestable flowers) |
|
Serbuk gergaji + pasir + sekam |
6,01 a |
0,68 a |
42,83 a |
|
Serbuk sabut kelapa |
6,25 a |
0,72 a |
45,25 a |
Performa pertumbuhan dan peningkatan kualitas serta produksi bunga tanaman anthurium yang ditanam pada media serbuk sabut kelapa tidak berbeda nyata dibanding pada media media serbuk gergaji + pasir + sekam. Menurut Wuryaningsih, et. al (2004 b), serbuk sabut kelapa mempunyai daya hantar listrik yang tinggi. Media tanam yang mempunyai daya hantar listrik yang tinggi pada skala tertentu mampu memfasilitasi ketersediaan ion-ion hara di daerah perakaran tanaman. Ketersediaan hara-hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah cukup ini berkontribusi pada proses metabolisme yang lebih optimal yang pada akhirnya memberikan pengaruh kepada tingkat pertumbuhan yang lebih signifikan.
KESIMPULAN
1. Performa pertumbuhan, kualitas bunga dan produksi tanaman anthurium bunga potong pada media tumbuh tanpa tanah dipengaruhi oleh jenis kultivar. Kultivar Sonate memiliki kualitas pertumbuhan yang terbaik dibandingkan cv. Angel dan cv. Kaumana, walaupun produksi bunga tidak berbeda nyata dengan cv. Angel. Sedangkan cv. Kaumana memiliki performa pertumbuhan, kualitas bunga dan produksi terendah.
2. Kualitas dan produksi anthurium bunga potong yang ditanam pada media serbuk sabut kelapa tidak lebih baik dibanding pada media serbuk gergaji + pasir + sekam. Sehingga media serbuk gergaji + pasir + sekam dapat diimplikasikan sebagai media alternatif pengganti serbuk sabut kelapa .
PUSTAKA
Allard, R. W. and A. D. Bradshaw. 1984. Implications of genotipe environment interaction in applied plant breeding. Crop Sci. 128 : 169 -180.
Claassen, F. 2004. The Dutch floriculture industry. Procc. national seminar for floriculture. Bogor, 4 – 5 August. 5 – 8 pp.
Dufour, L. and V. Guerin. 2005. Nutrient solution effect on the development and yield of Anthurium andreanum Lind in tropical soilless media. Scientia Hortic. xxx. www.elsevier.com/locate/scihorti. 5 Januari 2006
Elia, A., F. Serio, A. Parente, P. Santamaria and G. R. Rodriguez. 1998. Electrical conductivity of nutrient solution, plant growth and fruit quality of soilless grown tomato. Acta Hort 559 : 503 – 508.
Handreck, K. A. and N. D. Black. 1994. Growing media for ornamental plants and turf. Univ. of New South Wales, Randwich. 448 p.
Hanley, R. W. dan C. A. Robinso. 1994. Evaluation of twenty one potted anthurium cultivars grown for interior use. Procc. Fla. State Hort. Soc. 107 : 179 – 181.
Ketaren, S. dan B. Djatmiko. 1981. Daya guna kelapa. Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Pertanian. IPB. anthurium
Rosario, T. L. 1991. Anthuriums. College of Agriculture. University of the Philippines at Los Baňos. College-Laguna, Philippines 4031. 4-5 p.
Van Mageland-Laagland, I. 1995. Golden future for coco substrate. Waste products from coco industry could be newest peat substitutes. Floriculture Int. 5 (12) : 16 – 18.
Wuryaningsih, S., T. Sutater dan D. H. Goenadi. 1995. Pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit sebagai media tanpa tanah dan pemupukan pada tanaman pot Spathiphyllum. J. Hort. 5(1) : 12 – 18.
______________, I. Rusyadi dan Reni. 1999. Media tanpa tanah dan pemupukan pada tanaman hias anthurium pot. Makalah disampaikan pada Lustrum IX Fakultas Biologi UGM. Yogyakarta, 20 November 1999.
______________, V. J. Prasetya, R. Tejasarwana dan A. Mintarsih. 2004 a. Media tumbuh, tingkat daya hantar listrik dan pencucian media untuk kualitas anthurium pot. J. Hort 14 (edisi khusus) : 374 – 380.
______________, S. Andyantoro dan A. Abdulrachman. 2004 b. Media tumbuh, kultivar dan daya hantar listrik untuk bunga potong anthurium. J. Hort 14 (edisi khusus) : 359 – 357.
Penulis : Wuryaningsih, S. dan K. Budiarto

